Selasa, Mei 31, 2011

Perbankan RI 'Dijajah' Asing, BI & DPR Harus Bertindak

Selasa, 31/05/2011 18:18 WIB
Perbankan RI 'Dijajah' Asing, BI & DPR Harus Bertindak
Herdaru Purnomo - detikFinance

Foto: dok.detikFinance


Jakarta
- Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) bersama Pemerintah dan Bank Indonesia (BI) diminta untuk segera duduk bersama untuk membahas 'jajahan' asing yang terus gencar ke industri keuangan Indonesia.

Kepemilikan asing tanpa batas hingga 99% khususnya kepada sebuah bank di Indonesia perlu diatur untuk menjaga persaingan domestik dan mengatur bank agar tidak 'bandel'.

Demikian diungkapkan oleh Pengamat Perbankan yang juga Komisaris PT Bank Mandiri Tbk Krisna Wijaya di sela acara 'Rating 120 Bank' di Hotel Sahid Jaya, Sudirman, Jakarta, Selasa (31/5/2011).

"Marilah saatnya sekarang ini duduk bersama antara regulator, DPR, dan pemerintah untuk membahas apa masih relevan kepemilikan asing tanpa batas di industri keuangan RI," ujar Krisna.

Menurut Krisna, kepemilikan asing di bank perlu diatur lebih jauh karena dapat mengganggu industri keuangan lokal khususnya. Dikatakan Krisna, Indonesia merupakan satu-satunya negara yang memberikan peluang kepemilikan asing yang sangat besar berkecimpung di industri keuangan khususnya bank.

"Padahal di negara-negara lain maksimal itu paling besar 30% kepemilikan asingnya," tuturnya.

Lebih jauh Krisna menuturkan, perlunya kepemilikan mayoritas dipecah menjadi minoritas juga penting untuk menjaga pengawasannya. Ketika sebuah bank dimiliki oleh banyak orang, maka pengawasan akan lebih mudah dilakukan bersama dengan regulator.

"Kalau mayoritas kan hanya itu-itu saja dan bisa melakukan apa saja," tambahnya.

Krisna mengatakan, perlunya dilakukan revisi mengenai UU Perbankan yang mengatur hal tersebut. Oleh karena itu, DPR harus ikut turun tangan mengatasi hal tersebut.

Sebelumnya, Perhimpunan Bank-Bank Umum Nasional (Perbanas) juga mendesak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) untuk mencabut Keppres No. 171 tahun 1999 tentang kepemilikan modal asing. Keppres yang diteken sejak era Presiden BJ Habibie itu dinilai berdampak buruk karena membolehkan asing memiliki 99% saham bank lokal.

(dru/dnl)

Sabtu, Mei 28, 2011

“The Risks Are Enormous”: Why Morgenson and Rosner Are So Worried

“The Risks Are Enormous”: Why Morgenson and Rosner Are So Worried

Video Player Controls

In "Reckless Endangerment," co-authors Gretchen Morgenson and Josh Rosner examine the origins of the crisis, starting in the early 1990s. The co-authors pull no punches and aren't shy about placing blame. (See: Reckless Endangerment: Morgenson, Rosner Name Names — Point Finger at Fannie Mae. )

Having taken a long, hard look back, I asked Morgenson and Rosner about what worries them today and looking forward.

Too Big to Fail: Now, Even Bigger!

"We have even more 'too big to fail' institutions; more politically interconnected, very deep and wide institutions that could create another systemic event," says Morgenson, a Pulitzer Prize-winning columnist at The New York Times. "It's almost as if the situation that brought us to Fannie Mae and Freddie Mac having to be bailed out has now been squared or quadrupled. It's worse, not better."

Rosner, an analyst at Graham Fisher, wholeheartedly agrees.

"The risks are enormous" because there's even more concentration of assets among the biggest banks, which are "too big to analyze and manage," he says.

If the financial system was a "house of cards" before the crisis, the situation is worse today because back then investors had "some sense the numbers being given in annual reports and quarterly filings were accurate," Rosner says. "Now we know the government seems to be [complicit] in allowing them to fudge those numbers."

Toil & Trouble

Another issue which keeps Rosner up at night is the Fed's uber-easy monetary policy.

"The Fed is still under the assumption all they have to do to revive an economy is blow a new bubble," he says, suggesting commodities and emerging market bubbles have replaced housing, which in turn filled in after the Internet bubble collapsed.

At the same time, the Fed is creating "a lot of interest rate risk" by keeping rates at zero for so long. "As interest rates rise we'll see which banks are in trouble," he warns.

Speaking of trouble, Morgenson takes some solace that government regulators are (finally) starting to investigate alleged Wall Street crimes. "It's hard to imagine a crisis this large, which created trillions of losses, was nobody's fault," she says.

Amen.

Aaron Task is the host of The Daily Ticker. You can follow him on Twitter at @atask or email him ataltask@yahoo.com

http://finance.yahoo.com/blogs/daily-ticker/risks-enormous-why-morgenson-rosner-worried-152700730.html

Selasa, Mei 24, 2011

Jaminan Sosial Nasional Harus Secepatnya Direalisasikan

Selasa, 24/05/2011 20:43 WIB
Jaminan Sosial Nasional Harus Secepatnya Direalisasikan
Khairul Ikhwan - detikNews
Jaminan Sosial Nasional Harus Secepatnya Direalisasikan
Demo buruh menuntut jaminan sosial
Medan - Pemerintah terus didesak untuk segera melaksanakan UU No 40/2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN). Rakyat membutuhkan ketersediaan jaminan sosial, yaitu penyediaan perlindungan yang dilakukan melalui prosedur publik atas berbagai risiko sosial atau kehilangan penghasilan.

Berbicara dalam salah satu sesi seminar di forum "Ini Demokrasi Medan Bung" yang berlangsung di Universitas Sumatera Utara (USU), Selasa (24/5/2011) sore, Koordinator Komite Aksi Jaminan Sosial Provinsi Sumatera Utara (KAJS-Sumut) Minggu Saragih menyatakan, sejak UU SJSN disahkan 19 Oktober 2004, pemerintahan SBY belum juga secara nyata mau melaksanakan amanat UUD 1945 ini secara penuh.

"Berbagai alasan pun dikemukakan untuk terus menunda-nunda pelaksanaannya, mulai dari belum siapnya negara ini melaksanakan amanat tersebut, belum tersedianya aturan pelaksanaan, hingga kemampuan keuangan negara. Pembahasan RUU BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) di Panitia Khusus DPR pun tersendat karena penolakan pemerintah untuk melanjutkannya," kata Saragih.

Setelah tertunda dua kali masa sidang sejak Oktober 2010, kata Saragih, aksi massa yang dilakukan rakyat di 15 provinsi yang akhirnya membuat pemerintah menyampaikan juga Daftar Inventarisasi Masalah(DIM) RUU Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) kepada DPR pada 12 Mei 2011 lalu. RUU BPJS itu merupakan syarat mutlak terlaksananya UU No 40/2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN), yang merupakan aturan turunan dari pasal 28H ayat 3 dan 34 ayat 2 UUD 1945.

Saat ini, tukas Saragih, DIM sedang dibahas Panitia Khusus RUU BPJS, yang sudah berjanji kepada publik untuk akan secara intensif memperjuangkan disahkanya RUU BPJS, khususnya mengingat sisa waktu yang amat terbatas hingga paling lambat 15 Juli 2011.

"Apabila batas waktu ini terlampaui maka harapan seluruh rakyat Indonesia untuk terwujudnya jaminan sosial menyeluruh terpaksa harus kembali tertunda, setidaknya hingga 2014 setelah dilaksanakannya Pemilu berikut. Ini masalahnya," tukas Saragih dalam seminar yang digagas Friedrich-Ebert-Stiftung (FES) Indonesia, Yayasan KKSP, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik USU dan Tempo Institute tersebut.

Bagi rakyat, kata Saragih, yang penting adalah yang dikerjakan, bukan sekadar kata-kata dan retorika manis tapi penuh jebakan. Makin mendekati tahap perumusan lebih konkret dari RUU BPJS, makin terasanuansa pencarian rente (rent seeking), mencari keuntungan untuk diri sendiri dan kelompoknya, menguat seiring kompromi-kompromi yang dilakukan Pemerintah dan politisi partai politik di Panitia Khusus
maupun DPR secara umum.

(rul/irw)

Kamis, Mei 19, 2011

Gempa dan Tsunami 'Antarkan' Jepang ke Jurang Resesi

Kamis, 19/05/2011 10:26 WIB
Gempa dan Tsunami 'Antarkan' Jepang ke Jurang Resesi
Nurul Qomariyah - detikFinance

Kerusakan gempa Jepang (Foto: Reuters)
Tokyo - Gempa dan tsunami plus krisis nuklir yang melanda Jepang pada 13 Maret lalu telah membuat negara tersebut terjun ke jurang resesi. Perekonomian Jepang tercatat kembali minus selama 2 triwulan berturut-turut.

Data yang dirilis pemerintah Jepang menunjukkan, perekonomian negeri matahari terbit tersebut menyusut hingga 3,7% selama periode Januari-Maret 2011. Ini adalah penurunan terbesar kedua setelah rekor kontraksi perekonomian pada Januari-Maret 2009 yang mencapai 18,3%. Konsumsi swasta Jepang yang menguasai dua pertiga perekonomian turun 0,6%.

Secara quarter to quarter, perekonomian Jepang minus 0,9% selama triwulan I-2011. Secara teknikal, Jepang mengalami resesi karena selama dua triwulan berturut-turut mengalami kontraksi atau pertumbuhan ekonomi minus.

"Perekonomian Jepang diprediksi masih akan tetap lemah untuk beberapa waktu," ujar Menteri Ekonomi Jepang Kauro Yosano, seperti dikutip dari AFP, Kamis (19/5/2011).

Namun ia menyatakan, pelemahan ekonomi itu diprediksi hanya berlangsung sementara karena adanya perbedaan antara dampak gempa dengan krisis finaisial global yang telah menggerus permintaan luar negeri.

"Situasi ini tentu saja berbeda total dengan ketika masa Lehman Brothers kolaps. Perekonomian Jepang sepertinya cukup tangguh untuk menunjukkan ketangguhannya," ujar Yosano.

"Alasan PDB turun jelas dan ini tidak ada kaitannya dengan merosotnya permintaan luar negeri. Penurunan ini sepertinya hanya sementara," imbuh Yosano.

Para analis melihat perekonomian Jepang akan semakin memburuk selama periode April hingga Juni 2011 karena masalah rantai suplai di negara tersebut belum juga terpecahkan karena becnana telah mengganggu proses produksi.

Seperti diketahui, gempa berskala 9 dan menimbulkan tsunami secara dahsyat melanda Jepang dan memicu krisis nuklir karena rusaknya PLTN Fukushima. Hal itu menyebabkan kondisi Jepang berada di titik terburuk pasca perang dunia. Sejumlah perusahaan besar harus menghentikan sementara produksinya meski kini sebagian sudah mulai beroperasi.
(qom/dnl)

http://www.detikfinance.com/read/2011/05/19/102623/1642203/4/gempa-dan-tsunami-antarkan-jepang-ke-jurang-resesi

Minggu, Mei 15, 2011

Claire Daams, Memberantas Korupsi dengan Suara Hati

Kamis, 12/05/2011 10:31 WIB
Claire Daams, Memberantas Korupsi dengan Suara Hati
Rachmadin Ismail - detikNews
Claire Daams, Memberantas Korupsi dengan Suara Hati
Jakarta - Wanita ini tegas dalam urusan pemberantasan korupsi. Meski suaranya lembut, jangan coba-coba meremehkan kekuatannya untuk meringkus koruptor. Dialah Claire Daams, deputi jaksa federal asal Swiss.

Claire, begitu ia biasa disapa, adalah salah seorang pembicara dalam Konferensi Pemberantasan Praktik Penyuapan Pejabat Asing dalam Transaksi Bisnis Internasional di Hotel Grand Hyatt, Nusa Dua, Bali. Wanita berkacamata ini memiliki perawakan tinggi besar, namun bersuara halus.

Saat menggelar jumpa pers bersama Wakil Ketua KPK Bidang Penindakan Chandra Hamzah, Rabu (12/5/2011), semua mata terpana melihat paparannya. Dengan intonasi yang mendayu-dayu namun lugas, dia menyampaikan antusiasmenya dalam upaya pemberantasan korupsi di dunia, terutama untuk kasus penyuapan di dunia bisnis internasional.

"Bekerjasama secara internasional untuk memberantas korupsi adalah sebuah kesenangan. Terutama jika dilakukan oleh lembaga penegak hukum dari latar belakang yang berbeda," ujar Claire.

Saat berdialog, Claire selalu menatap lawan bicaranya dengan tajam. Semua pertanyaan direspons dengan lugas, meski kadang diselipi canda di dalamnya. Salah satunya tentang penolakan dunia internasional terhadap ancaman hukuman mati dalam perkara korupsi.

"Saya berharap hukuman mati saya dihapuskan. Tapi itu jawaban candaan saya. Kami sebenarnya tidak mau menghalangi upaya hukuman mati, tapi hanya berharap hukuman itu sebisa mungkin dihindari," ucapnya lagi.

Lebih lanjut Claire menuturkan, korupsi bukan hanya kejahatan biasa. Bagi wanita yang pernah lama tinggal di Belanda ini, korupsi memiliki efek domino yang cukup besar. Terutama bagi rakyat kecil.

"Sangat penting untuk menyadari bahwa korupsi berbeda dengan kasus penembakan atau pembunuhan. Di kasus itu, Anda punya sosok yang jelas sebagai korban. Korupsi lebih kompleks masalahnya, dan akhirnya korbannya lebih banyak. Ini adalah kejahatan demokrasi," urainya.

"Akhirnya, orang-orang di jalanan yang menjadi korban. Dan itu yang membuat saya tertarik untuk memberantas korupsi dengan hati. Jangan lupa, saya sebagai jaksa mewakili masyarakat untuk melawan para kriminal itu," tambahnya lagi.

(mad/nrl)

Minggu, Mei 08, 2011

Kisruh Media Centre KTT ASEAN: Tifatul dan Sudi Saling Lempar Tanggung Jawab

Kisruh Media Centre KTT ASEAN: Tifatul dan Sudi Saling Lempar Tanggung Jawab

INILAH.COM, Jakarta - Menteri Sekretaris Negara Sudi Silalahi dan Menteri Komunikasi dan Informasi Tifatul Sembiring saling lempar tanggung jawab terkait media centre yang tidak sesuai dengan standar Internasional di Jakarta Convention Centre (JCC), tempat berlangsungnya Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN ke-18.

"Setneg tidak pernah mengeluarkan keputusan untuk membuat media centre dalam bentuk tenda seperti yang sekarang. Urusan media centre sepenuhnya tanggung jawab Menkominfo," kata Sudi di Istana, Jakarta, Kamis (5/5/2011).

Menurut Sudi, kondisi media centre seperti ini sangat memalukan. Sebagai tuan rumah yang baik, sudah seharusnya panitia menyediakan media centre yang memadai bagi wartawan dunia yang meliput kegiatan itu. "Kalau sampai memunculkan banyak keluhan karena fasilitas dan kondisi media centre yang seperti sekarang ini, itu sangat memalukan," ujarnya.

Sementara Tifatul mengatakan media centre yang menggunakan tenda itu diatur oleh pihak Setneg. "Soal sempitnya ruangan itu karena memang kami dapat jatahnya dari Setneg cuma segitu," ujarnya.

Padahal, menurut pihak Setneg, Kemenkominfo sempat ditawari Hall A dan B untuk media centre namun menolaknya. Tifatul membantah pernah menolak tawaran itu. "Tidak, tidak, kita dari awal hanya dikasih tempat itu. Bisa dicek ke Setneg," ujarnya.

Sebagaimana diberitakan, media centre yang akan menjadi pusat kerja dan tempat berkumpulnya jurnalis dunia selamapenyelenggaraan KTT ASEAN ke-18 itu ditempatkan di luar gedung JCC. Tempatnya juga berupa tenda kecil dengan 90 buah unit komputer. Fasilitas yang tersedia juga sangat minim, bahkan steker listrik pun tidak tersedia.

Fasilitas seperti itu tidak lazim untuk konferensi sekelas KTT. Biasanya, media centre berada di sekitar ruangan sidang atau paling tidak berada dalam satu gedung. Fasilitas yang selalu tersedia adalah komputer untuk berbagai keperluan, seperti menulis berita, laporan, mencetak naskah, dan lain-lain.

Selain itu, komputer tersebut selalu terhubung dengan internet selama 24 jam. Tersedia pula akses internet gratis untuk jurnalis yang menggunakan notebook atau perangkat mobile lainnya. Akses internet juga disediakan bagi jurnalis dari media elektronik dalam kecepatan yang lebih tinggi agar mereka bisa mengirim data dalam jumlah besar dengan cepat. Di beberapa negara, khusus untuk jurnalis televisi, akses internet tidak digratiskan.

Di dalam ruangan media centre itu juga biasanya disediakan layar raksasa atau sejumlah televisi yang menayangkan kegiatan sidang secara langsung. Media centre juga menyediakan informasi, naskah pidato, dan hasil-hasil sidang dalam bentuk cetakan maupun digital. Materi seperti itu tersedia setiap saat dalam berbagaibahasa. Biasanya, dalam bahasa Inggris, Prancis, Spanyol, Arab,Jepang, China, dll. [tjs]

http://id.berita.yahoo.com/kisruh-media-centre-ktt-asean-tifatul-dan-sudi-150000770.html

Kamis, April 28, 2011

Panasonic Bakal PHK 40 Ribu Karyawan

Kamis, 28/04/2011 10:01 WIB
Panasonic Bakal PHK 40 Ribu Karyawan
Wahyu Daniel - detikFinance

Foto: Reuters
Jakarta - Perusahaan elektronik asal Jepang, Panasonic, berencana untuk mengurangi 40 ribu pekerjanya dalam dua tahun ke depan, terutama para karyawannya di luar Jepang.

Seperti dikutip dari AFP, Selasa (28/4/2011), perusahaan yang berbasis di Osaka ini mengumumkan rencananya untuk mengurangi sekitar 10% dari seluruh pekerja yang dimilikinya. Ini merupakan salah satu rencana bisnis yang bakal dilakukan perusahaan tersebut.

Rencana ini merupakan bagian dari usaha Panasonik untuk merampingkan operasi bisnisnya yang tumpang tindih antara pekerja di Panasonis Electric Works dan Sanyo Electric, yang pada 1 April ini disatukan unitnya setelah dilakukan merger.

Selain itu, Panasonic juga menawarkan pensiun dini secara sukarela kepada para pekerjanya mulai April 2012, terutama pada untuk karyawan di luar Jepang.

Seperti diketahui, sebelum merger, Panasonic memiliki 220 ribu karyawan di Panasonic Electric Works. Dari jumlah itu, sebanyak 60 ribu bekerja di Panasonic Electric Works dan 100 ribu di Sanyo.

Panasonic saat ini mengharapkan kinerjanya membaik, meskipun laba bersihnya bakal menurun 30% di tahun berjalan ini. Penurunan laba ini belum memperhitungan dampak dari bencana gempa dan tsunami pada 11 Maret lalu.
(dnl/ang)

Dolar Merosot, Harga Emas Lagi-lagi Cetak Rekor Tertinggi

Kamis, 28/04/2011 19:02 WIB
Dolar Merosot, Harga Emas Lagi-lagi Cetak Rekor Tertinggi
Nurul Qomariyah - detikFinance

Foto: Reuters

London
- Dolar AS kembali merosot nilainya atas euro, dan harga emas pun kembali menciptakan rekor tertingginya sepanjang sejarah. Pelemahan dolar AS terus memicu investor berburu aset yang aman termasuk emas.

Pada perdagangan Kamis (28/4/2011), mata uang tunggal euro menguat ke level US$ 1,4882, yang merupakan titik tertingginya sejak 7 Desember 2009. Namun euro selanjutnya surut lagi ke level US$ 1,4834, dibandingkan pada penutupan di pasar New York kemarin di US$ 1,4785. Terhadap yen, dolar AS juga merosot ke 81,63 yen dibandingkan sebelumnya di 82,15 yen.

Pelemahan dolar AS itu langsung memicu harga emas di titik tertingginya yakni di pasar spot sempat menembus di US$ 1.534,30 per ounce, sebelum akhirnya surut di US$ 1.530,99 naik dibandingkan penutupan sebelumnya di level 1.526,40.

Sementara harga emas berjangka juga menembus titik tertingginya di US$ 1.535,1 per ounce sebelum akhirnya surut ke US$ 1.531,90 per ounce.

"Segala sesuatu berkaitan dengan dolar dan pembelian aset 'safe-haven'. Keputusan The Fed sebenarnya bukan sebuah kejutan, tidak ada yang berubah, namun nada dari pernyataan Bernanke meninggalkan kesan akan dibiarkan sementara sebelum akhirnya kenaikan suku bunga dipertimbangkan," jelas kepala MKS Finance, Afshin Nabavi seperti dikutip dari Reuters.

"The Fed secara jelas tidak memikirkan kebijakan ketat dalam waktu dekat dan dari perspektif ini, tidak ada dalam bahasa the Fed untuk menangkap pelemahan dolar AS akhir-akhir ini," ujar Spiros Papadopoulos dari National Australia Bank seperti dikutip dari AFP.

Seperti diketahui, Bank Sentral AS dalam pertemuan rutinnya kembali mempertahankan suku bunga ekstra rendahnya di kisaran 0-0,25%. Federal Open Market Committe juga menyatakan akan menuntaskan program pembelian surat berharga hingga US$ 600 miliar hingga Juni sesuai jadwal.

Bernanke dalam konferensi persnya juga mengatakan sedikit kurang momentum dalam perekonomian dan ia melihat sedikit melemahnya angka-angka kemungkinan di bawah 2% untuk pertumbuhan PDB dalam 3 bulan tahun ini. Hal tersebut mengindikasikan the Fed sepertinya akan mempertahankan kebijakan akomodatifnya meski khawatir tentang masalah inflasi.
(qom/dnl)

Rabu, April 27, 2011

Bursa Regional Ambruk, IHSG Turun 13 Poin

Selasa, 26/04/2011 16:11 WIB
Bursa Regional Ambruk, IHSG Turun 13 Poin
Angga Aliya - detikFinance

Foto: Angga/detikFinance
Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 13 poin di tengah ambruknya bursa-bursa regional. Sentimen negatif banyak bermunculan dari regional hari ini.

Sementara nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah di posisi Rp 8.650 per dolar AS dibandingkan penutupan kemarin di Rp 8.610 per dolar AS.

Membuka perdagangan pagi tadi, IHSG melemah sangat tipis 0,925 poin (0,03%) ke level 3.787,615. Indeks sudah masuk area jenuh beli dan investor cenderung menunggu keluarnya laporan kinerja emiten.

Sepanjang perdagangan indeks sama sekali tak menyentuh zona hijau, sejak dibuka indeks terus turun. Tekanan jual kembali terjadi di lantai bursa.

Pada penutupan perdagangan sesi I, IHSG jatuh 37,447 poin (0,99%) ke level 3.751,093. Saham-saham berbasis finansial dan aneka industri membuat indeks betah di zona merah.

Profit taking marak terjadi di lantai bursa sehingga membuat indeks sempat jatuh lebih dari 40 poin ke posisi 3.788,540. IHSG semakin jauh dari level 3.800.

Menutup perdagangan, Selasa (26/4/2011), IHSG turun 13,669 poin (0,37%) ke level 3.774,871. Sementara Indeks LQ 45 melemah 3,344 poin (0,50%) ke level 676,025.

Meski sempat terjadi gempa di sekitar Cilacap sebesar 6,3 skala richter, namun hal tersebut tidak terlalu memperngaruhi laju IHSG yang memang sudah tertekan di zona merah sejak awal perdagangan.

Investor masih ragu untuk berinvestasi karena menunggu keluarnya laporan kinerja emiten di triwulan I-2011 meski beberapa sudah keluar dan hasilnya cukup menggembirakan.

Sektor agrikultur dan properti menguat dan menjadi penopang jatuhnya bursa sore ini, menyusul kinerja salah satu produsen sawit besar Astra Agro (AALI) yang naik signifikan di tiga bulan pertama tahun ini.

Perdagangan berjalan cukup moderat dengan frekuensi transaksi mencapai 113.741 kali pada volume 5,013 miliar lembar saham senilai Rp 3,635 triliun. Sebanyak 104 saham naik, 107 saham turun, dan 112 saham stagnan.

Transaksi investor asing tercatat melakukan penjualan bersih (foreign net sell) tipis senilai Rp 126,683 miliar di seluruh pasar.

Sentimen negatif bermunculan dari regional. Seperti kebijakan pemerintah China yang akan naikkan batas minimum kepemilikan modal (CAR) sehingga bursanya melemah selama tiga hari berturut-turut.

Kinerja emiten Jepang di triwulan I-2011 pun kurang memuaskan sehingga mendorong saham-sahamnya turun, salah satunya adalah saham Nintendo yang melemah akibat penjualan Wii yang turun.

Berbagai sentimen negatif ini membuat bursa-bursa di Asia terpuruk tak berdaya di zona merah. Bursa Jepang memimpin pelemahan bursa Asia sore ini.

Berikut kondisi bursa-bursa di regional sore ini:


  • Indeks Komposit Shanghai melemah 25,77 poin (0,87%) ke level 2.939,18.
  • Indeks Hang Seng turun 130,93 poin (0,54%) ke level 24.007,38.
  • Indeks Nikkei 225 jatuh 113,27 poin (1,17%) ke level 9.558,69.
  • Indeks Straits Times terkoreksi 11,20 poin (0,35%) ke level 3.176,52.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers diantaranya Malindo (MAIN) naik Rp 350 ke Rp 5.650, Samudera Indonesia (SMDR) naik Rp 325 ke Rp 4.200, Multibreeder (MBAI) naik Rp 250 ke Rp 18.000, dan Astra Agro (AALI) naik Rp 100 ke Rp 22.950.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losersantara lain Multi Bintang (MLBI) turun Rp 5.000 ke Rp 285.000, Tembaga Mulia (TBMS) turun Rp 1.400 ke Rp 5.800, Astra Internasional (ASII) turun Rp 800 ke Rp 54.100, dan Indo Tambangraya (ITMG) turun Rp 500 ke Rp 47.100.


(ang/qom)

Selasa, April 26, 2011

PPATK: Pembobolan Dana Elnusa di Bank Mega Mengarah ke 'Cuci Uang'

Selasa, 26/04/2011 19:10 WIB
PPATK: Pembobolan Dana Elnusa di Bank Mega Mengarah ke 'Cuci Uang'
Herdaru Purnomo - detikFinance

Jakarta - Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) menyatakan, kasus pembobolan dana PT Elnusa Tbk Rp 111 miliar yang disimpan di Bank Mega mengarah ke tindakan money laundering atau cuci uang.

Hal ini disampaikan oleh Direktur Pengawasan dan Kepatuhan PPATK Subintoro kepada detikFinance, Selasa (26/4/2011).

"Hemat saya untuk kasus ini ada indikasi yang mengarah ke money laundering," jelas Subintoro.

Alasannya, karena dana pembobolan tersebut dimanfaatkan oleh para pelaku untuk diinvestasikan melalui beberapa perusahaan yang duitnya tersebar di beberapa bank.

"Jadi ada upaya pelaku untuk menyamarkan atau menyembunyikan hasil kejahatan," tukas Subintoro.

Seperti diketahui, manajemen Elnusa mengaku kebobolan hingga Rp 111 miliar, yang diduga ada keterlibatan oknum Bank Mega.

Pembobolan dana dilakukan oleh Direktur Keuangan Elnusa yang telah dipecat, Santun Nainggolan melalui pencairan deposito on call.

Namun, Mantan Kepala Cabang Bank Mega Jababeka Itman Harry Basuki menolak disalahkan terkait bobolnya uang milik PT Elnusa Rp 111 miliar. Itman mengaku pencairan uang dilakukan sesuai prosedur.

Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) menyatakan, kasus pembobolan dana PT Elnusa Tbk Rp 111 miliar yang disimpan di Bank Mega mengarah ke tinfakan money laundering atau cuci uang.
(dnl/qom)

Citibank Pasrah Terima Sanksi BI

Selasa, 26/04/2011 19:56 WIB
Citibank Pasrah Terima Sanksi BI
Wahyu Daniel - detikFinance

Jakarta - Bank Indonesia (BI) menyatakan Citibank bersalah dalam penggunaan jasa penagih utang (debt collector) dan akan menyiapkan sanksi. Menanggapi hal ini pihak Citibank pasrah.

SVP Country Corporate Affair Head Citigroup, Ditta Amahorseya mengatakan Citibank siap untuk melakukan perbaikan sesuai dengan rekomendasi yang diberikan oleh BI.

"Citibank akan bekerjasama dengan BI untuk melakukan perbaikan sesuai dengan rekomendasi yang diberikan," kata Ditta kepada detikFinance , Selasa (26/4/2011)

BI sebelumnya telah menyatakan Citibank melanggar PBI 11/11/2009 tentang Alat Pembayaran Menggunakan Kartu (APMK) yang diperkuat dengan SE nomor 11/10/2009, yang antara lain mengatur penggunaan perusahaan jasa penagih utang.

"Pelanggaran yang dilakukan Citibank antara lain adalah perjanjian kerjasama dengan pihak penagih dinyatakan bahwa segala tanggung jawab akhir ada di pihak penagih padahal di PBI diatur bahwa segala permasalahan dalam penagihan harus menjadi tanggung jawab bank," papar Difi.

Citibank menyalahi skema penarikan utang terkait kolektibilitas atau tingkat penunggakan utang dari nasabah kartu kredit. Menurut Difi, berdasarkan PBI baru, utang atau tunggakan baru bisa dialihkan kepada pihak ketiga setelah tunggakannya masuk kolektibilitas empat (diragukan) dan lima (macet). Namun Citibank sudah mengalihkan penagihan kepada pihak ketiga mulai kolektibilitas dua.

"Pelanggaran lainnya adalah lemahnya sistem monitoring penagihan dan keempat adalah lemahnya penanganan keluhan nasabah yang banyak keberatan atas sikap para debt collector," ungkap Difi.

Namun untuk jenis sanksinya, BI masih butuh waktu untuk memikirkannya.

Seperti diketahui, BI telah meminta keterangan dari pihak Citibank menyusul tewasnya Irzen Octa yang merupakan nasabah bank asal AS itu. Irzen tewas setelah diinterogasi oleh debt collector Citibank. Irzen diketahui sedang dalam proses mempertanyakan tagihan utangnya yang membengkak dari Rp 48 juta menjadi Rp 100 juta. Setelah Irzen meninggal, Citibank mengaku sudah menghapuskan seluruh tagihannya.

Dalam kasus meninggalnya Irzen Octa tersebut, polisi telah menahan 5 tersangka dari pihak Citibank dan debt collector yang mereka sewa yakni Humizar, Donald Bakara, Boy Tambunan, Arif Lukman, dan Henry Waslinton. BI juga telah meminta Citibank untuk sementara menghentikan penagihan dengan menggunakan debt collector setelah mencuatnya kasus ini.

Yah! Bunga Kartu Kredit Baru Turun 2 Bulan Lagi

Selasa, 26/04/2011 15:54 WIB
Yah! Bunga Kartu Kredit Baru Turun 2 Bulan Lagi
Herdaru Purnomo - detikFinance

Jakarta - Industri kartu kredit siap untuk menurunkan suku bunga kredit dalam dua bulan kedepan. Hal tersebut sesuai dengan arahan Bank Indonesia (BI) dimana menilai suku bunga kartu kredit yang saat ini dinilai cukup tinggi dan 'mencekik'.

General Manager Asosiasi Kartu Kredit Indonesia (AKKI) Steve Marta mengatakan diperlukan waktu untuk persiapan menurunkan bunga kredit.

"Suku bunga kartu kredit itu bakal dilakukan paling lambat dalam dua bulan ke depan. Waktu dua bulan itu dibutuhkan industri untuk persiapan penurunan suku bunga, termasuk menghitung ekspektasi penurunan pendapatan akibat penurunan suku bunga kartu kredit tersebut," kata Steve ketika berbincang dengan detikFinance di Jakarta, Selasa (26/4/2011).

Steve menjelaskan pihaknya membutuhkan waktu dua bulan untuk masa pengumuman dan sosialisasi ke industri dan masyarakat. Lebih jauh Steve mengatakan dalam menurunkan suku bunga kartu kredit, akan dilakukan secara bertahap.

"Saat ini, rata-rata suku bunga kartu kredit berkisar antara 3,75% hingga 4%. Untuk tahap awal, industri akan menurunkan suku bunganya menjadi 3,25-3,5%," tambahnya.

Nantinya, Steve mengatakan suku bunga kartu kredit diharapkan bisa menjadi 2% samapai 2,5%.

Sebelumnya, AKKI mengusulkan penurunan bunga kartu kredit kepada BI. Bank sentral sendiri menilai banyak nasabah yang ternyata tidak mengetahui perhitungan bunga kartu kredit sehingga menyebabkan tunggakan dalam jumlah besar yang tidak disangka. Bunga kartu kredit sangatlah besar bisa mencapai 42% per tahunnya.

Kepala Biro Hubungan Masyarakat Bank Indonesia, Difi Ahmad Johansyah mengatakan apabila diperhatikan dengan seksama, bunga kartu kredit per tahun minimal sebesar 30%.

"Hal ini diakibatkan dari penetapan bunga kredit minimal 2,5% per bulannya. Selain itu, tambahan biaya seperti materai, pembayaran melalui ATM seringkali tidak kita sadari," ujar Difi.

"Tapi ternyata ada juga kartu kredit yang menetapkan bunga per bulan sebesar 3,5% berarti akan menjadi 42% per tahun," imbuh Difi.

BI juga akan mewajibkan bank untuk transparan menginformasikan tingkat suku bunga kartu kreditnya seperti di Malaysia.

(dru/hen)

Sabtu, April 23, 2011

Kenaikan Harga Emas Belum Berhenti

Jumat, 22/04/2011 10:02 WIB
Kenaikan Harga Emas Belum Berhenti
Nurul Qomariyah - detikFinance

Foto: Reuters
New York- Harga emas terus menanjak menembus rekor baru lagi seiring makin merosotnya dolar AS. Harga emas masih bertahan di level psikologis US$ 1.500 per ounce.

Emas yang sudah menembus US$ 1.500 per ounce untuk pertama kalinya pada Rabu lalu, kembali naik bersamaan dengan kenaikan aset-aset yang berisiko seperti saham-saham karena tekanan inflasi.

Pada perdagangan Kamis (21/4/2011), harga emas di pasar spot naik 0,6% menjadi US 1.507,21 per ounce setelah sempat menembus rekor di US$ 1.508,75. Harga emas berjangka untuk pengiriman Juni juga naik 4,90 dolar menjadi US$ 1.503,80.

Harga perak juga naik 2,7% menjadi US$ 46,44 per ounce. Perdagangan berjangka emas sangat aktif dengan volume mencapai 170.000 lot.

Dolar AS kemarin tercatat merosot tajam terhadap sekumpulan mata uang. Euro tercatat menguat tajam hingga 1,46 dolar untuk pertama kalinya dalam setahun terakhir sebelum akhrinye terkoreksi tipis. Euro tercatat ditutup pada 1,455 dolar.

Dolar AS juga merosot atas yen ke posisi 81,85 yen, dibandingkan sebelumnya di 82,54 yen. Prospek rendahnya suku bunga AS terus menekan dolar AS, apalagi setelah lembaga pemeringkat memangkas outlook AS karena masalah defisit anggaran.

"Dolar AS sedang berada di tengah trend penurunan. Jadi dolar bukan lagi safe haven dalam sudut pandang sultnya pemerintah AS memecahkan defisit anggaran dan emas mendapatkan keuntungan darinya," ujar Leo Larkin, analis dari Standard & Poor's seperti dikutip dari Reuters, Jumat (22/4/2011).

Harga emas sepanjang bulan ini sudah naik hingga 5 persen dan mencatat kenaikan selama 6 pekan berturut-turut, merefleksikan penguatan di seluruh pasar komoditas.

Pelemahan dolar AS itu juga ikut menaikkan harga minyak mentah dunia. Minyak light sweet pengiriman Juni naik 84 sen menjadi US$ 112,29 per barel, minyak Brent naik 14 sen menjadi US$ 123,99 per barel.

(qom/qom)

Minggu, April 17, 2011

About 37,000 North Carolina residents lose jobless benefits

About 37,000 North Carolina residents lose jobless benefits


WILMINGTON, North Carolina (Reuters) – About 37,000 North Carolina residents lost their unemployment benefits on Saturday when Gov. Beverly Perdue refused to sign a budget bill that extended the benefits for those unemployed more than 99 weeks.

The Republican-controlled General Assembly met in a rare weekend session on Saturday to pass a bill extending the benefits but forcing the Democratic governor to accept a 13 percent cut in the $19.9 billion state budget she presented in February.

After the legislature acted, the governor's office said Perdue will veto the legislation.

"The General Assembly has once again shown they are willing to play games with people's lives in holding hostage some 37,000 unemployed North Carolinians," the governor said in a statement.

"But to sign the bill and suffer the extreme cuts proposed by Republicans would risk the future of this state and the lives of 9.5 million citizens," she said.

North Carolina was one of more than 30 states in which an extended benefits program of up to 20 weeks of compensation was created to provide support for the long-term unemployed affected by the economic recession.

The U.S. Labor Department notified state officials two weeks ago that the extended benefits program had to stop paying out by April 16 because North Carolina's recent three-month average unemployment rate had improved statistically from the depressed rates of 2010 and 2009.

Fourteen states have passed legislation to revise their formula and keep the extended benefits flowing.

(Reporting and writing by Jim Brumm; Editing by Mary Wisniewski and Peter Bohan)

http://news.yahoo.com/s/nm/20110416/us_nm/us_northcarolina_jobless_1

4 Negara Asia dengan Belanja Militer Terbesar

4 Negara Asia dengan Belanja Militer Terbesar
Sejumlah angkatan bersenjata di dunia tahun lalu menghabiskan dana US$1,63 triliun.
MINGGU, 17 APRIL 2011, 06:03 WIB
Syahid Latif

VIVAnews - Amerika Serikat (AS) selama ini terkenal sebagai pasar penghasil persenjataan dunia dan ditaksir bakal menjual hingga US$50 miliar pada tahun ini. Walaupun diketahui bisnis persenjataan dunia pada 2010 tidak akan sebaik setahun sebelumnya.

Sejumlah angkatan bersenjata di berbagai negara tahun lalu tercatat menghabiskan dana hingga US$1,63 triliun, atau naik tipis 1,3 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pengeluaran dana tersebut, termasuk untuk pembelian senjata, keperluan prajurit, serta dana untuk memelihara perlengkapan dan infrastruktur militer yang sudah dimiliki.

Berdasarkan data Stockholm International Peace Research Institute seperti dikutip VIVAnews.comdari laman 247wallst.com, Sabtu, 16 April 2011, disebutkan bahwa banyak negara yang hingga kini belum menyerah untuk mengurangi anggaran pertahanan mereka. Bahkan, belanja militer di negara-negara Afrika dan Amerika Selatan justru meningkat hingga 6 persen.

Di antara 10 negara di dunia yang mengeluarkan anggaran besar selama 10 tahun terakhir, tercatat empat negara dari kawasan Asia masuk dalam daftar tersebut. Sementara itu, dari kawasan Eropa tercatat lima negara memiliki anggaran militer terbesar yaitu Italia, Jerman, Rusia, Prancis, dan Inggris.

Posisi pertama dalam daftar 10 negara yang mengalokasikan dana terbesar dipegang oleh Amerika Serikat yang mengeluarkan dana hingga US$698 miliar. Kenaikan anggaran militer tersebut meningkat 81,3 persen dibandingkan posisi pada 2001.

Berikut empat negara Asia yang menganggarkan miliaran dolar AS selama 2010 untuk kegiatan militer :

4. India

Rudal berhulu ledak nuklir jarak jauh Agni III milik India

Belanja militer 2010: US$41,3 miliar.
Perubahan 2001-2010: 54,3 persen.
Persentase terhadap produk domestik bruto (PDB): 2,7 persen.

India menempati posisi kelima negara di Asia atau kesembilan dunia sebagai negara yang mengalokasikan dana cukup besar untuk kegiatan militernya. Anggaran belanja militer India tahun lalu sebesar US$1 miliar memang menurun jika dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, penurunan ini diperkirakan tidak bertahan lama karena pada Februari lalu, pemerintah India meningkatkan belanja militernya sebesar 11,6 persen. Hal itu dilakukan seiring makin kuatnya militer di China dan Pakistan.

3. Arab Saudi

Konvoi pasukan Arab Saudi tiba di Bahrain, 14 Maret 2011

Belanja militer 2010: US$45,2 miliar.
Perubahan 2001-2010: 63 persen.
Persentase terhadap PDB: 10,4 persen.

Tingginya anggaran belanja militer Arab Saudi tidak terlepas dari kekuatan ekonomi yang begitu besar. Anggaran sebesar US$45,2 miliar tahun lalu merupakan 10,4 persen dari total produk domestik bruto (PDB) negara Teluk ini. Persentase ini merupakan yang terbesar dibandingkan negara-negara dengan anggaran belanja terbesar dalam daftar 10 negara ini. Arab Saudi juga menjadi negara yang mengalami peningkatan belanja militer terbesar dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 4 persen.

2. Jepang

Prototipe pesawat jet siluman Jepang pada 2006

Belanja militer 2010: US$54,5 miliar.
Perubahan 2001-2010: minus 1,7 persen.
Persentase terhadap PDB: 1 persen.

Jepang selama ini sudah mempertahankan anggaran militernya hanya sebesar 1 persen terhadap PDB sejak 1967. Sebagai hasilnya, penghematan anggaran militer Jepang telah membuat perekonomian negara tersebut semakin kuat. Di saat berbagai negara Asia Timur meningkatkan belanja modal lebih dari 55 persen selama 10 tahun terakhir, Jepang justru mengalami penurunan anggaran 1,7 persen.

1. China

Para pejabat militer China berkumpul di Beijing

Belanja militer 2010: US$119 miliar (perkiraan).
Perubahan 2001-2010: 189 persen.
Persentase terhadap PDB: 2,1 persen (perkiraan).

China merupakan negara kedua di dunia yang menghabiskan dana paling besar untuk belanja militer sepanjang 2010. Negara Tirai Bambu ini juga mengalami pertumbuhan tercepat di antara negara-negara lainnya. Sejak 2001 hingga 2010, tercatat anggaran militer China mengalami pertumbuhan yang melesat hingga 189 persen. Pertumbuhan itu lebih dari dua kali lipat di antara 10 negara yang masuk dalam daftar ini.

Pelemahan ekonomi pada 2009 menyebabkan kenaikan anggaran belanja China hanya meningkat 3,8 persen. Namun, anggaran pada 2011 diperkirakan naik 12,7 persen.

Banyak analis yang yakin anggaran pertahanan China sebetulnya lebih tinggi dari laporan yang selama ini beredar di masyarakat. (art)

• VIVAnews