Tampilkan postingan dengan label IHSG. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label IHSG. Tampilkan semua postingan

Kamis, Agustus 11, 2011

IHSG Melemah 42 Poin Akibat Profit TakingSaham Bank

Kamis, 11/08/2011 12:10 WIB
IHSG Melemah 42 Poin Akibat Profit TakingSaham Bank
Angga Aliya - detikFinance

Foto: Angga/detikFinance
Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah poin akibat aksi ambil untung di saham-saham bank bluechip. Sentimen krisis utang Eropa membuat kembali membuat investor khawatir.

Mengawali perdagangan pagi tadi, IHSG dibuka terpangkas 42,634 poin (1,10%) ke level 3.820,942 terseret arus negatif bursa global dan regional. Rumor pemangkasan peringkat bank-bank Perancis membuat kekhawatiran investor meninggi.

Pergerakan indeks cukup fluktuatif hari ini, di awal perdagangan sempat jatuh hingga posisi terdalamnya di 3.803,252. Tak lama kemudian indeks langsung berusaha balik ke zona hijau namun gagal.

Pada penutupan perdagangan sesi I, Kamis (11/8/2011), IHSG melemah 31,747 poin (0,83%) ke level 3.831,829. Sementara Indeks LQ 45 turun 5,624 poin (0,83%) ke level 679,623.

Saham-saham bank bluechip menjadi bulan-bulanan investor, indeks sektor finansial pun terpuruk hingga hampir dua persen. Hampir seluruh indeks sektoral di pasar modal terkena koreksi.

Indeks sektor infrastruktur dan perdagangan menjadi sektor yang bisa menguat dengan poin yang cukup signifikan. Sayangnya, dua sektor saja tak cukup membawa IHSG keluar dari teritori negatif.

Investor asing kembali melepas saham, nilainya hingga siang ini sudah cukup besar. Beberapa investor lokal ada yang melakukan aksi beli selektif.

Perdagangan hari ini berjalan moderat dengan frekuensi transaksi mencapai 67.330 kali pada volume 3.153 miliar lembar saham senilai Rp 3,054 triliun. Sebanyak 57 saham naik, sisanya 175 saham turun, dan 61 saham stagnan.

Bursa saham China sudah mampu balik arah ke zona hijau dengan penguatan tipis. Bursa-bursa regional lainnya masih melemah terkena sentimen negatif krisis utang Eropa yang berpotensi menyebar.

Berikut kondisi bursa-bursa di Asia siang hari ini:


  • Indeks Komposit Shanghai naik 10,94 poin (0,43%) ke level 2.560,12.
  • Indeks Hang Seng ambruk 286,97 poin (1,45%) ke level 19.496,70.
  • Indeks Nikkei 225 anjlok 101,41 poin (1,12%) ke level 8.937,33.
  • Indeks Straits Times terpangkas 45,03 poin (1,60%) ke level 2.776,06.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers diantaranya Plaza Indonesia (PLIN) naik Rp 430 ke Rp 2.300, Elang Mahkota (EMTK) naik Rp 350 ke Rp 2.350, Telkom (TLKM) naik Rp 250 ke Rp 7.350, dan Astra Agro (AALI) naik Rp 250 ke Rp 21.450.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Century Textille (CNTX) turun Rp 1.550 ke Rp 6.300, Astra Internasional (ASII) turun Rp 750 ke Rp 67.050, Mayora (MYOR) turun Rp 500 ke Rp 14.600, dan HM Sampoerna (HMSP) turun Rp 500 ke Rp 31.000.


(ang/qom)

Rabu, April 27, 2011

Bursa Regional Ambruk, IHSG Turun 13 Poin

Selasa, 26/04/2011 16:11 WIB
Bursa Regional Ambruk, IHSG Turun 13 Poin
Angga Aliya - detikFinance

Foto: Angga/detikFinance
Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 13 poin di tengah ambruknya bursa-bursa regional. Sentimen negatif banyak bermunculan dari regional hari ini.

Sementara nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah di posisi Rp 8.650 per dolar AS dibandingkan penutupan kemarin di Rp 8.610 per dolar AS.

Membuka perdagangan pagi tadi, IHSG melemah sangat tipis 0,925 poin (0,03%) ke level 3.787,615. Indeks sudah masuk area jenuh beli dan investor cenderung menunggu keluarnya laporan kinerja emiten.

Sepanjang perdagangan indeks sama sekali tak menyentuh zona hijau, sejak dibuka indeks terus turun. Tekanan jual kembali terjadi di lantai bursa.

Pada penutupan perdagangan sesi I, IHSG jatuh 37,447 poin (0,99%) ke level 3.751,093. Saham-saham berbasis finansial dan aneka industri membuat indeks betah di zona merah.

Profit taking marak terjadi di lantai bursa sehingga membuat indeks sempat jatuh lebih dari 40 poin ke posisi 3.788,540. IHSG semakin jauh dari level 3.800.

Menutup perdagangan, Selasa (26/4/2011), IHSG turun 13,669 poin (0,37%) ke level 3.774,871. Sementara Indeks LQ 45 melemah 3,344 poin (0,50%) ke level 676,025.

Meski sempat terjadi gempa di sekitar Cilacap sebesar 6,3 skala richter, namun hal tersebut tidak terlalu memperngaruhi laju IHSG yang memang sudah tertekan di zona merah sejak awal perdagangan.

Investor masih ragu untuk berinvestasi karena menunggu keluarnya laporan kinerja emiten di triwulan I-2011 meski beberapa sudah keluar dan hasilnya cukup menggembirakan.

Sektor agrikultur dan properti menguat dan menjadi penopang jatuhnya bursa sore ini, menyusul kinerja salah satu produsen sawit besar Astra Agro (AALI) yang naik signifikan di tiga bulan pertama tahun ini.

Perdagangan berjalan cukup moderat dengan frekuensi transaksi mencapai 113.741 kali pada volume 5,013 miliar lembar saham senilai Rp 3,635 triliun. Sebanyak 104 saham naik, 107 saham turun, dan 112 saham stagnan.

Transaksi investor asing tercatat melakukan penjualan bersih (foreign net sell) tipis senilai Rp 126,683 miliar di seluruh pasar.

Sentimen negatif bermunculan dari regional. Seperti kebijakan pemerintah China yang akan naikkan batas minimum kepemilikan modal (CAR) sehingga bursanya melemah selama tiga hari berturut-turut.

Kinerja emiten Jepang di triwulan I-2011 pun kurang memuaskan sehingga mendorong saham-sahamnya turun, salah satunya adalah saham Nintendo yang melemah akibat penjualan Wii yang turun.

Berbagai sentimen negatif ini membuat bursa-bursa di Asia terpuruk tak berdaya di zona merah. Bursa Jepang memimpin pelemahan bursa Asia sore ini.

Berikut kondisi bursa-bursa di regional sore ini:


  • Indeks Komposit Shanghai melemah 25,77 poin (0,87%) ke level 2.939,18.
  • Indeks Hang Seng turun 130,93 poin (0,54%) ke level 24.007,38.
  • Indeks Nikkei 225 jatuh 113,27 poin (1,17%) ke level 9.558,69.
  • Indeks Straits Times terkoreksi 11,20 poin (0,35%) ke level 3.176,52.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers diantaranya Malindo (MAIN) naik Rp 350 ke Rp 5.650, Samudera Indonesia (SMDR) naik Rp 325 ke Rp 4.200, Multibreeder (MBAI) naik Rp 250 ke Rp 18.000, dan Astra Agro (AALI) naik Rp 100 ke Rp 22.950.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losersantara lain Multi Bintang (MLBI) turun Rp 5.000 ke Rp 285.000, Tembaga Mulia (TBMS) turun Rp 1.400 ke Rp 5.800, Astra Internasional (ASII) turun Rp 800 ke Rp 54.100, dan Indo Tambangraya (ITMG) turun Rp 500 ke Rp 47.100.


(ang/qom)

Rabu, Maret 16, 2011

Bursa Jepang Meroket, IHSG Naik Tipis 7 Poin

Rabu, 16/03/2011 09:36 WIB
Bursa Jepang Meroket, IHSG Naik Tipis 7 Poin
Angga Aliya - detikFinance

Foto: Angga/detikFinance
Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menguat tipis 7 poin menyusul Bursa Jepang yang rebound cukup tinggi. Indeks tidak terpengaruh oleh teror bom yang terjadi di tanah air.

Sementara nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka menguat di posisi Rp 8.785 per dolar AS dibandingkan penutupan kemarin di Rp 8.800 per dolar AS.

Pada perdagangan preopening, IHSG menguat tipis 7,177 poin (0,20%) ke level 3.531,660. Sedangkan Indeks LQ 45 naik tipis 1,845 poin (0,29%) ke level 631,148.

Membuka perdagangan, Rabu (16/4/2011), IHSG naik tipis 7,495 poin (0,21%) ke level 3.531,978. Indeks LQ 45 menguat tipis 1,862 poin (0,29%) ke level 631,165.

Hingga pukul 9.35 waktu JATS, pergerakan IHSG masih serba tipis, naik 7,272 poin (0,21%) ke level 3.531,755. Sementara Indeks LQ 45 menguat tipis 1,588 poin (0,22%) ke level 630,891.

Kemarin, indeks mengalami koreksi cukup besar mengikuti pelemahan bursa-bursa regional merespons krisis nuklir di Jepang yang juga meluluhlantakkan bursa Tokyo. IHSG ditutup turun 45,356 poin (1,28%) ke level 3.524,483.

Bursa-bursa di regional mulai bangkit menyusul bangkitnya bursa di negeri sakura. Meski demikian, penguatannya masih belum signifikan.

Berikut kondisi bursa-bursa di Asia pagi ini:

  • Indeks Komposit Shanghai naik tipis 4,64 poin (0,16%) ke level 2.900,89.
  • Indeks Hang Seng naik 4,44 poin (0,02%) ke level 22.673,81.
  • Indeks Nikkei 225 meroket 375,99 poin (4,37%) ke level 8.981,14.
  • Indeks Straits Times naik 14,90 poin (0,51%) ke level 2.960,98.
Sementara nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dibuka menguat di posisi Rp 8.785 per dolar AS dibandingkan penutupan kemarin di Rp 8.800 per dolar AS.

(ang/ang)

Minggu, November 28, 2010

Konflik Korea Kembali Memanas, IHSG Jatuh 59 Poin

Jumat, 26/11/2010 16:11 WIB
Konflik Korea Kembali Memanas, IHSG Jatuh 59 Poin
Angga Aliya - detikFinance



Foto: dok detikFinance
Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan akhir pekan dengan pelemahan 59 poin. Indeks menurun setelah banyak investor melakukan aksi beli akibat kembali memanasnya konflik antara Korea Selatan dan Korea Utara serta krisis finansial Eropa yang masih mengkhawatirkan.

Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) pun ikut melemah kembali menembus Rp 9.000/US$ dibandingkan pembukaan pagi tadi di Rp 8.965.

Membuka perdagangan pagi tadi, IHSG sempat naik 4,812 poin (0,13%) ke level 3.706,812. Penguatan IHSG dibantu oleh emiten baru Borneo Lumbung. Namun, penguatan ini tidak bertahan lama dan akhirnya IHSG jatuh ke zona merah.

Pada penutupan perdagangan Sesi I, IHSG melemah 17,766 poin (0,48%) ke level 3.684,247. Sektor perdagangan dan pertambangan menjadi penopang kejatuhan indeks.

Menutup perdagangan akhir pekan, Jumat (26/11/2010), IHSG terkoreksi 59,513 poin (1,61%) ke level 3.642,500. Indeks LQ 45 juga turun 14,226 poin (2,10%) ke level 661,836.

Emiten baru, PT Borneo Lumbung Energi Tbk (BORN), menjadi saham yang paling aktif diperdagangkan sengan total transaksi Rp 1,7 triliun. Sahamnya menguat 7,69% atau Rp 90 ke Rp 1.260 dari harga pembukaan Rp 1.170.

Meski demikian, menguatnya saham emiten baru itu tidak cukup kuat menopang IHSG yang dilanda aksi jual di saham-saham unggulan. Investor banyak yang mengamankan portfolio akibat kembali memanasnya konflik antar saudara Korea Selatan dan Korea Utara.

Posisi IHSG tertinggi hari ini berada di level 3.710,460 diraih tak lama saat pembukaan bursa pagi tadi. Indeks sempat jatuh ke posisi terendahnya hari ini, yaitu di level 3.632,095.

Perdagangan hari ini berjalan cukup ramai dengan frekuensi transaksi di seluruh pasar 139.930 kali pada volume 18,111 miliar lembar saham senilai Rp 7,798 triliun. Sebanyak 48 saham naik, 183 saham turun dan 55 saham stagnan.

Bursa-bursa Asia menyambut sentimen negatif ini dengan mengkoleksi pelemahan. Seluruh bursa-bursa regional berjalan di zona merah, padahal siang tadi masih bisa mencetak penguatan. Bursa Korsel yang sempat menguat pun langsung jatuh 25 poin.

Berikut kondisi bursa-bursa di Asia hingga siang hari ini:
  • Indeks Komposit Shanghai turun 26,56 poin (0,92%) ke level 2.871,70.
  • Indeks Hang Seng turun 177,43 poin (0,77%) ke level 22.877,25.
  • Indeks Nikkei 225 turun 40,20 poin (0,40%) ke level 10.039,56.
  • Indeks Straits Times turun 0,94 poin (0,03%) ke level 3.158,29.
  • Indeks Kospi anjlok 25,88 poin (1,34%) ke level 1.901,80.
Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers diantaranya Ace Hardware (ACES) naik Rp 150 ke Rp 2.550, Borneo Lumbung (BORN) naik Rp 100 ke Rp 1.270, Sumber Alfaria Trijaya (AMRT) naik Rp 100 ke Rp 2.200, dan Bank Tabungan Pensiunan (BTPN) naik Rp 100 ke Rp 14.950.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Multi Bintang (MLBI) turun Rp 8.000 ke Rp 257.000, Astra Internasional (ASII) turun Rp 1.250 ke Rp 54.200, Gudang Garam (GGRM) turun Rp 1.150 ke Rp 42.850, dan Sarana Menara (TOWR) turun Rp 950 ke Rp 10.600.

(ang/qom)

Rabu, September 01, 2010

IHSG Masih dalam Kelesuan

Rabu, 01/09/2010 07:56 WIB
Rekomendasi Saham
IHSG Masih dalam Kelesuan
Nurul Qomariyah - detikFinance


Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kemarin akhirnya ditutup melemah seiring pelemahan yang terjadi di bursa-bursa regional. Investor pun memilih melanjutkan profit taking.

Pada penutupan perdagangan Selasa, (31/8/2010), IHSG ditutup turun 17,681 poin (0,57%) ke level 3.081,884. Sedangkan Indeks LQ 45 melemah 4,136 poin (0,70%) ke level 581,314.

Pergerakan IHSG yang labil diprediksi akan kembali terjadi pada perdagangan Rabu (1/9/2010). Investor akan memanfaatkan pergerakan bursa utama dunia yang labil untuk kembali melakukan profit taking.

Mereka juga akan menunggu data inflasi dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang akan diumumkan BPS siang ini. Namun BI sebelumnya memrediksi inflasi berkisar 1% seiring naiknya harga beras.

Saham-saham di bursa Wall Street bergerak tipis dalam gerak perdagangan yang fluktuatif di akhir bulan Agustus.

Pada perdagangan Selasa (31/8/2010), indeks Dow Jones ditutup naik tipis 4,99 poin (0,05%) ke level 10.014,72. Indeks Standard & Poor's 500 naik tipis 0,41 poin (0,04%) ke level 1.049,33 dan Nasdaq melemah 5,94 poin (0,28%) ke level 2.114,03.

Bursa Jepang juga mengawali perdagangan Rabu ini dengan penuh keragu-raguan setelah kemarin merosot tajam seiring penguatan yen. Indeks Nikkei-225 dibuka menguat tipis 9,26 poin (0,10%) ke level 8.833,32.

Berikut rekomendasi saham untuk hari ini:

Panin Sekuritas:

IHSG kembali bergerak melemah. Anjloknya bursa regional memicu investor untuk melanjutkan profit taking yang terjadi sehari sebelumnya. Kami perkirakan hari ini indeks masih akan bergerak melemah terbatas. Pengumuman inflasi oleh BPS diperkirakan akan mempengaruhi sentimen pasar hari ini. Kisaran support-resistance : 3.062-3.097. Saham pilihan : MAPI, PWON, PTPP.

Finan Corpindo Nusa:

Kecemasan mengenai pemulihan ekonomi Amerika serta penurunan Nikkei yang mencapai 3% lebih menyebabkan IHSG terbawa ke teritori negatif. Selain itu investor juga melakukan antisipasi menjelang pengumuman inflasi Agustus. Aksi jual juga terjadi mengingat minggu depan sebagian investor telah libur untuk menyambut Lebaran. Untuk Rabu, IHSG diperkirakan bergerak di kisaran 3.055 hingga 3.100.

Erdikha Sekuritas:

HSG ditutup melemah 17.68 point manjadi 3081.88 (-0.57%). Pelemahan bursa global dan penurunan kembali harga minyak dunia menjadi sentimen negatif bagi indeks, pelemahan saham-saham sektor konsumsi dan pertambangan menjadi salah atu pemicu pelemahan indeks. Secara teknikal indeks masih berpeluang mengalami penurunan, indeks masih menguji support level 3060. Pergerakan IHSG kami perkirakan berkisar antara 3022-3104. Saham rekomendasi kami adalah SMGR, SMCB. dan BTEL.

IndoPremier Securities:


IHSG hari ini diperkirakan akan bergerak mix dengan kecenderungan mengalami penguatan. Indeks kemarin berhasil rebound dengan ditutup diatas MA 20 di level 3082 yang memberikan peluang pergerakan intraday bullish menuju resisten 3122. Indikator volume, stochastic, RSI dan MACD masih menunjukkan kondisi bearish, namun MA 36 di level 3049 diperkirakan dapat kembali menahan jika terdapat tekanan turun lebih lanjut. Ekspektasi range 3080 – 3122. Saham-saham pilihan hari ini ASII, PGAS, BKSL dan BRAU.

(qom/qom)

Selasa, Agustus 03, 2010

IHSG Jatuh di Bawah 3.000

Selasa, 03/08/2010 16:10 WIB
IHSG Jatuh di Bawah 3.000
Indro Bagus - detikFinance


(foto: dok detikFinance)
Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup merosot semakin tajam 85 poin setelah Bank Indonesia (BI) mengakui tengah mengkaji redenominasi rupiah. Kabarnya, investor saham menarik dana besar-besaran guna mengkoleksi dolar AS yang dinilai lebih aman.

IHSG dibuka naik tipis ke level 3.059,372 dan langsung menguat ke level 3.084,168, naik 26 poin dari penutupan kemarin di level 3.058,979.

Sayangnya penguatan hanya berlangsung sesaat. Mendadak aksi jual serentak mendera IHSG dan membuatnya langsung terpuruk di zona negatif. Dua sentimen utama yang mempengaruhi koreksi tajam IHSG hari ini adalah peningkatan inflasi Juli 2010 serta wacana pemotongan nilai nominal mata uang rupiah (redenominasi).

Peningkatan inflasi membuat proyeksi inflasi diperkirakan bakal lebih buruk dari target yang tentunya bisa memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di 2010. Wacana redenominasi yang menimbulkan misinterpretasi dengan kebijakan Sanering yang digelontorkan bung Karno di masa lampau menimbulkan keresahan di pasar saham.

Investor kabarnya memutuskan menarik dananya dari pasar modal guna mengkoleksi dolar AS yang dinilai lebih aman ketimbang memegang rupiah yang tengah diguncang isu redenominasi membuat IHSG terpuruk.

Terlebih ketika Bank Indonesia (BI) mengumumkan tengah mengkaji redenominasi, pada perdagangan sesi II IHSG langsung jatuh ke level 2.965,558, merosot 93 poin.

Tidak ada indeks saham sektoral yang menguat. Seluruh saham-saham raksasa unggulan mengalami koreksi tajam. Rentang pergerakan IHSG hari ini cukup ekstrem dengan amplitudo tinggi berkisar antara 2.965,558 hingga 3.084,168.

Transaksi investor asing pun didominasi aksi jual sebesar Rp 2,022 triliun dengan transaksi beli sebesar Rp 1,432 triliun. Nilai transaksi jual bersih asing (foreign net sell) mencapai Rp 590,091 miliar.

Pada perdagangan Selasa (3/8/2010), IHSG ditutup anjlok 85,323 poin (2,78%) ke level 2.973,656. Indeks LQ 45 juga melemah tajam 18,158 poin (3,09%) ke level 568,110.

Bursa-bursa regional mulai bergerak variatif namun masih didominasi penguatan:
  • Indeks Shanghai turun 45,51 poin (1,70%) ke level 2.627,00.
  • Indeks Hang Seng naik 44,87 poin (0,21%) ke level 21.457,66.
  • Indeks Nikkei-224 menguat 123,70 poin (1,29%) ke level 9.694,01.
  • Indeks Straits Times turun 12,67 poin (0,42%) ke level 3.012,45.


Perdagangan berjalan cukup ramai dengan frekuensi transaksi mencapai 123.861 kali pada volume 5,174 miliar lembar saham senilai Rp 5,269 triliun. Sebanyak 43 saham naik, 196 saham turun dan 52 saham stagnan.

Saham-saham yang naik harganya antara lain Tjiwi Kimia (TKIM) naik Rp 325 ke Rp 2.775, Indomobil (IMAS) naik Rp 200 ke Rp 1.300, BW Plantations (BWPT) naik Rp 30 ke Rp 790, Lippo Karawaci (LPKR) naik Rp 25 ke Rp 510.

Sedangkan saham-saham yang turun harganya di top loser antara lain Astra International (ASII) turun Rp 2.450 ke Rp 47.500, Gudang Garam (GGRM) turun Rp 850 ke Rp 35.450, Unilever (UNVR) turun Rp 650 ke Rp 16.100, BRI (BBRI) turun Rp 400 ke Rp 9.050, Bank Mandiri (BMRI) turun Rp 200 ke Rp 5.650, BCA (BBCA) turun Rp 200 ke Rp 5.750.


(dro/qom)

Rabu, Mei 05, 2010

IHSG Mendadak Merah oleh Astra dan Telkom

Selasa, 04/05/2010 16:12 WIB
IHSG Mendadak Merah oleh Astra dan Telkom
Nurul Qomariyah - detikFinance

Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) gagal bertahan di rekor tertingginya. Merahnya saham PT Astra International Tbk (ASII) dan PT Telkom Tbk (TLKM) menjerumuskan IHSG ke teritori negatif setelah sempat mengukir rekor tertinggi.

Mengawali perdagangan, IHSG langsung menguat ke titik tertingginya sepanjang sejarah. IHSG sempat menembus titik tertingginya di 2.996,419 berkat penguatan saham-saham berkapitalisasi besar seperti BRI dan ASII.

Ini berarti rekor tertinggi baru. Rekor tertinggi sebelumnya terjadi pada 30 April, ketika IHSG secara intraday sempat menembus 2.972,916 sebelum akhirnya ditutup di level 2.971,25.

Memasuki sesi II, kenaikan IHSG secara perlahan mulai digelayuti oleh melemahnya saham ASII dan TLKM. IHSG pun gagal mempertahankan rekor tertingginya, meski angka 3.000 sudah diambang mata.

IHSG sempat melemah jauh dengan titik terendah di 2.946,419, namun pelemahan IHSG berhasil menciut pada menit-menit terakhir perdagangan.

Pada perdagangan Selasa (4/5/2010), IHSG akhirnya ditutup melemah 1,880 poin (0,06%) ke level 2.959,015. Indeks LQ 45 juga melemah tipis 0,317 poin (0,06%) ke level 572,215.

Sementara nilai tukar rupiah ditutup pada level 9.020 per dolar AS, dibandingkan penutupan kemarin di level 9.030 per dolar AS.

Bursa-bursa regional mayoritas juga mengalami koreksi, setelah sempat menguat diawal perdagangan.
  • Indeks Hang Seng melemah 48,31 poin (0,23%) ke level 20.763,05.
  • Indeks Straits Times melemah 39,25 poin (1,33%) ke level 2.904,97.
  • Indeks Seoul melemah 2,46 poin (0,14%) ke level 1.718,75.

Perdagangan berjalan cukup moderat dengan frekuensi transaksi di seluruh pasar mencapai 100.063 kali pada volume 5.189 juta lembar saham senilai Rp 3,865 triliun. Sebanyak 66 saham naik, 141 saham turun dan 70 saham stagnan.

Saham-saham yang turun harganya antara lain Telkom (TLKM) turun Rp 150 menjadi Rp 7.850, Astra International (ASII) turun Rp 850 menjadi Rp 45.550, United Tractor (UNTR) turun Rp 100 menjadi Rp 19.200, BUMI turun Rp 50 menjadi Rp 2.325.

Sedangkan saham-saham yang naik harganya antara lain BRI (BBRI) naik Rp 150 menjadi Rp 9.050, Bhakti Investama (BHIT) naik RP 68 menjadi Rp 265, Medco Energi (MEDC) naik Rp 50 menjadi Rp 3.000, Unilever (UNVR) naik Rp 1.350 menjadi Rp 15.800, Gudang Garam (GGRM) naik Rp 450 menjadi Rp 28.100, Bank Danamon (BDMN) naik Rp 100 menjadi Rp 5.800.
(qom/qom)

IHSG-Rupiah Langsung Ambles

Rabu, 05/05/2010 09:38 WIB
IHSG-Rupiah Langsung Ambles
Nurul Qomariyah - detikFinance

Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah kompak melemah di awal perdagangan ini. Pelemahan bursa-bursa regional dan Wall Street membuat investor memilih untuk melepas portofolionya sejenak.

Mengawali perdagangan, saham-saham unggulan langsung mengalami koreksi besar. Kemerosotan IHSG ini mengikuti kejatuhan Wall Street tadi malam menyusul meningkatnya kekhawatiran seputar krisis utang Yunani.

Pada perdagangan Rabu (5/5/2010), IHSG dibuka merosot hingga 41,543 poin (1,40%) ke level 2.917,472. IHSG terus merosot dan dalam 5 menit awal perdagangan tercatat melemah 49,781 poin (1,68%) ke level 2.909,234. IHSG sempat mencapai titik terendahnya di 2.904,303.

Sementara nilai tukar rupiah dibuka juga merosot ke level 9.065 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di level 9.020 per dolar AS.

Bursa-bursa regional mayoritas mengalami koreksi.

  • Indeks Hang Seng merosot hingga 425,41 poin (2,05%) ke level 20.337,64.
  • Indeks Straits Times juga merosot 37,16 poin (1,20%) ke level 2.7864,10.

Setelah warning secara teknikal dengan menyempitnya rewards dan melebarnya resiko hari kemarin, dan didukung dengan sentimen yang sangat negatif pagi ini dari Dow dan regional, maka IHSG jelas akan melakukan koreksinya.

Bagaimana analisa saham hari ini? Berikut analis saham Santo Vibby untuk pergerakan hari ini:

Secara teknikal tekanan jual sudah sangat terasa pada penutupan kemarin, dengan pembentukan candlestick shooting star pada puncak sebuah trend.

Koreksi yang terjadi masih terbilang sangat sehat, dengan adjustment harga yang akan terjadi berpotensi akan menjajal beberapa support berikut:

  • Support terdekat berada di kisaran 2917-2922
  • Support 2 : 2907 (cukup ideal)
  • Support 3 : 2833 (potensi tersentuh jika koreksian yang terjadi cukup extreme nantinya)

Indikator Stochastic juga menunjukkan sinyal jual yang akan mendukung kejatuhan harga sementara.

Bagi Trader, ini merupakan kesempatan untuk menanti dan menerapkan strategi BOW (Buy On Weakness), tentunya menggunakan Money Management yang tepat serta sabuk pengaman berupa Stop Loss yang jelas mengingat resiko yang dihadapi cukup lebar, sementara bagi Investor yang mempunyai timeframe agak panjang, saat ini belum ada tanda-tanda yang memberikan sinyal exit.

(qom/qom)

Rabu, April 28, 2010

IHSG Tertekan, Anjlok 50 Poin

IHSG Tertekan, Anjlok 50 Poin
Kekhawatiran investor meningkat akibat turunnya peringkat obligasi Yunani dan Portugal.
RABU, 28 APRIL 2010, 09:41 WIB
Arinto Tri Wibowo
Pialang sedih setelah BEI menghentikan perdagangan (AP Photo/Achmad Ibrahim)

VIVAnews - Indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) dibuka melemah tajam 50,29 poin (1,72 persen) ke level 2.889 pada awal transaksi Rabu 28 April 2010.

Penurunan indeks tersebut sesuai perkiraan beberapa analis yang menyatakan IHSG berpotensi melanjutkan pelemahan pada transaksi hari ini karena masih adanya tekanan jual oleh investor.

"Pada perdagangan hari ini IHSG diperkirakan turun," kata tim riset PT Reliance Securities Tbk dalam ulasannya yang diterima VIVAnews di Jakarta.

Menurut tim riset itu, kekhawatiran investor kembali meningkat akibat diturunkannya peringkat obligasi Yunani dan Portugal.

Namun, Reliance menilai penurunan hanya akan bersifat sementara, sehingga saat terjadi pelemahan IHSG, pelaku pasar dapat membeli saham dengan harga lebih murah.

Di bursa Asia, indeks juga bergerak melemah dengan Hang Seng turun 306,44 poin (1,44 persen) ke posisi 20.955,35, Nikkei 225 menjadi 10.935,99 atau melemah 276,67 poin (2,47 persen), dan Straits Times terkoreksi 42,31 poin (1,41 persen) ke posisi 2.949,37.

Sementara itu, di bursa Wall Street pada perdagangan Selasa sore waktu setempat atau Rabu dini hari WIB, indeks Dow Jones melemah 213,04 poin (1,9 persen) ke level 10.991,99, Nasdaq turun 51,48 poin (2,04 persen) menjadi 2.471,47, dan Standard & Poor's 500 terkoreksi 28,34 poin (2,34 persen) ke posisi 1.183,71. (hs)

arinto.wibowo@vivanews.com

• VIVAnews

Selasa, Maret 23, 2010

Prospek IHSG Ditengah Gelisah Ekonomi Dunia 2010

Kamis, 28/01/2010 10:02 WIB
Prospek IHSG Ditengah Gelisah Ekonomi Dunia 2010
Indro Bagus SU - detikFinance


Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) telah mencetak prestasi luar biasa sejak kejatuhan pasar modal dunia tahun 2008 dan setidaknya sejak 3 bulan terakhir.

Sikap optimistis disertai proyeksi ekonomi fundamental yang lumayan, apalagi jika dibandingkan dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi negara-negara tetangga dan negara maju, telah membuat investor-investor domestik maupun global menjadikan Bursa Efek Indonesia (BEI) sebagai salah satu tempat investasi prioritas di 2010.

Sayangnya, sikap optimistis tersebut mendadak mulai berbalik arah. Proyeksi ekonomi dunia di 2010 yang sudah dihitung, sontak menemui kendala dan mungkin harus dihitung ulang.

China mulai ketar-ketir terhadap bahaya inflasi yang berujung pada penerapan kebijakan pengetatan moneter. Beberapa waktu lalu, China menaikkan rasio Giro Wajib Minimum (GWM) yag diiringi dengan pembatasan kredit perbankan di negaranya.

Amerika Serikat (AS) pun berecana melakukan pengetatan kebijakan moneter. Presiden AS Barrack Obama berencana memisahkan industri perbankan dari hedge fund. Obama mengisyaratkan akan melarang perbankan AS memiliki, mensponsori dan memiliki keterkaitan dengan hedge fund.

Kebijakan Obama yang berbau anti liberalisme ini mendapat reaksi keras dari kalangan kapitalis AS. Bahkan Partai Demokrat AS yang mengusung Obama ke pucuk pimpinan negara paman Sam itu pun mengindikasikan penolakan.

Akan tetapi, pelaku pasar modal global mulai melakukan antisipasi guna memantau terlebih dahulu dampak rencana kebijakan ini dalam jangka pendek. Aksi jual mendadak melanda seluruh bursa-bursa di dunia.

Duet maut isu kebijakan moneter dua negara adidaya tersebut sukses merontokkan indeks-indeks saham di seluruh dunia.

Apalagi ditambah realisasi ekonomi Korea yang tak sesuai harapan. Tiba-tiba, seluruh dunia khawatir kalau tahun 2010 ternyata bukan tahun pemulihan ekonomi gobal seperti yang diperkirakan sebelumnya.

Benarkah demikian?

Jika benar, konsekuesinya adalah negara-negara di dunia akan melakukan penghitungan ulang atas proyeksi ekonominya masing-masing, yang tentunya berujung pada revisi angka ke bawah alias revised down.

"Saat ini kita tidak tahu pasti apakah ini transisi menuju pemulihan atau sebaliknya transisi menuju tren penurunan," ujar Kepala Riset PT Recapital Securities, Poltak Hotradero di hotel Shangri-La, Jakarta, Rabu (27/1/2010).

Menurut Poltak, masih terlalu dini menyimpulkan apakah situasi sekarang merupakan sinyal pembalikan arah menuju penurunan atau hanya transisi sesaat sebelum akhirnya kembali positif.

"Indikator-indikator ekonomi dunia mungkin harus dihitung kembali. Data Korea yang tidak sesuai harapan, serta rencana pengetatan kebijakan moneter AS dan China mungkin saja bisa menjadi indikator terjadinya pembalikan arah, kita belum tahu pasti," ujarnya.

Meski demikian, reaksi sudah muncul terlebih dahulu di pasar saham. Selama dua pekan terakhir, bursa-bursa dunia mengalami tekanan jual yang cukup berat. Koreksi mulai mendominasi perdagangan harian.

Selama 5 hari terakhir, IHSG terus menerus ditutup turun. Pada perdagangan kemarin, Rabu (27/1/2010), IHSG ditutup turun 13,861 poin (0,53%) ke level 2.564,554.

Pada perdagangan 20 Januari 2010, IHSG masih berada di posisi 2.667,266. Itu berarti, selama 5 hari perdagangan berturut-turut IHSG mengalami koreksi kumulatif sebanyak 102,712 poin (3,85%).

Apakah tren penurunan masih berlanjut di 2010 ini? Belum dapat dipastikan. Sebab, prospek fundamental ekonomi dunia 2010 mulai diragukan.

Sebagai catatan, aspek fundamental perekonomian domestik dan global, biasanya menjadi indikator utama dalam mengukur prospek pasar saham. Kalau proyeksi ekonomi dunia bakal direvisi ke bawah, konsekuensinya perkiraan harga-harga saham pun bakal mengalami hal yang sama.

"Kalau proyeksi pertumbuhan ekonomi domestik dan dunia direvisi, target harga-harga saham pun ikut direvisi," jelas Poltak.

Menurut Poltak, level IHSG saat ini pun sebenarnya sudah berada di atas nilai wajar. Perhitungan Poltak menyimpulkan kalau level yang wajar untuk IHSG berkisar antara 2.200 hingga 2.400.

"Itu artinya level IHSG sekarang lebih tinggi 300-400 poin dari nilai wajarnya," ujar Poltak.

Atas alasan itu, Poltak meragukan kalau IHSG bisa menembus dan bertahan di level 3.000 di tahun 2010. Sebab, belum ada sentimen ekonomi global yang positif untuk membuat IHSG bertaha di level 3.000.

"Kelihatannya bertahan di 3.000 cukup sulit. Kalau menyentuh sekali dua kali mungkin saja, tapi kalau bertahan di level 3.000 saya rasa tidak. Belum ada sentimen positif global yang bisa membuat IHSG bertahan di level 3.000," ujar dia.

Kendati demikian, ia melihat adanya sentimen temporer yang cukup positif untuk membuat bursa-bursa saham dunia kembai bergairah di 2010, termasuk IHSG.

"AS akan melakukan sensus tahun ini. Sensus di AS itu biasanya menyerap tenaga kerja sekitar 850 ribu orang. Cukup besar untuk mengurangi persentase pengangguran di AS yang saat ini sebesar 10%. Itu bisa menjadi sentimen positif yang bersifat temporer di 2010," ungkap Poltak.

Sensus AS menurut perkiraan Poltak akan dilakukan sekitar pertengahan tahun 2010. Perkiraan Poltak, pasar saham dunia akan kembali bergairah sekitar periode tersebut.

"Kalau sekarang kelihatannya masih bergejolak. Dan kelihatannya ini baru awalnya saja, mungkin sekitar Maret akan mencapai puncak gejolaknya," ujar Poltak.

(dro/qom)

Selasa, November 24, 2009

Mengenal Seluk Beluk IHSG

Rabu, 14/10/2009 14:24 WIB
Mengenal Seluk Beluk IHSG
Indro Bagus SU - detikFinance


Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan atau yang lebih dikenal dengan IHSG, tentu menjadi sebuah istilah yang akrab di telinga sebagian masyarakat. Terlebih bagi para investor pasar saham.

Namun, tak banyak yang mengetahui komponen apa saja yang menjadi pembentuk nilai IHSG. Padahal, IHSG sering dijadikan acuan guna melihat respresentasi pergerakan pasar saham secara keseluruhan.

Dalam kolom portofolio kali ini, detikFinance akan memberikan gambaran mengenai komponen-komponen pembentuk IHSG serta faktor-faktor apa saja yang membuat IHSG berubah-ubah seiring terjadinya transaksi di lantai bursa.

Pertama-tama akan dihadirkan metode-metode yang umumnya digunakan untuk menyusun indeks saham. Secara umum, ada dua jenis rumusan untuk membentuk indeks saham.

Pertama rumus atau metode yang dikenal dengan nama Weighted Average. Rumusnya adalah (Sigma)PxQ/Nd kemudian dikali dengan 100.

P adalah harga saham di pasar reguler. Q adalah bobot saham (jumlah saham yang tercatat di Bursa Efek Indonesia). Nd adalah nilai dasar, yaitu nilai yang dibentuk berdasarkan jumlah saham yang tercatat di BEI yang masuk dalam daftar penghitungan indeks.

Nilai dasar bisa berubah jika ada aksi korporasi yang menyebabkan jumlah saham berkurang atau bertambah.

Sederhananya, setiap saham dihitung terlebih dahulu kapitalisasi pasar. Kemudian dijumlahkan seluruh kapitalisasi pasar per saham atas saham-saham yang diperhitungkan dalam indeks, lalu dibagi dengan nilai dasar, kemudian dikalikan dengan 100.

Nah, kapitalisasi pasar per saham yang di total ini berbeda dengan nilai kapitalisasi pasar seluruh saham di BEI, karena ada saham-saham yang tidak perhitungkan dalam penghitungan indeks.

Saham-saham yang tidak diperhitungkan ini menjadi rahasia BEI. Pihak BEI memiliki kriteria sendiri atas saham-saham yang bisa dimasukkan dalam penghitungan IHSG.

Jadi boleh dibilang, IHSG merupakan nilai representatif atas rata-rata harga seluruh saham di BEI berdasarkan jumlah saham tercatat. Itulah kenapa disebut sebagai Weightened Average nilai harga rata-rata terhadap bobot atau jumlah saham.

Rumus kedua adalah apa yang disebut sebagai Average. Penghitungannya mirip dengan rumus pertama. Hanya saja, tidak memasukkan bobot atau jumlah saham tercatat dalam penghitungan. Rumusnya adalah (Sigma)P/Nd dikali 100.

Metode ini dipakai oleh indeks saham industri Dow Jones (Dow Jones Industrial Average/DJIA). Alasan indeks ini tidak memasukkan bobot sebagai pengali harga saham karena DJIA merupakan indeks 30 saham terpilih di bursa New York.

Sebanyak 30 saham yang masuk dalam DJIA diasumsikan telah memiliki bobot yang setara, sehingga penghitungan bobot dianggap tidak perlu lagi. Sebagai catatan, 30 saham ini boleh dibilang mewakili setiap industri di Amerika Serikat (AS) dan memiliki likuiditas transaksi yang tinggi.

Kalau boleh disamakan, indeks LQ45 memiliki karakter yang mirip dengan DJIA, meskipun rumus penghitungan yang dipakai tetap sama seperti rumus yang dipakai dalam menghitung IHSG.

Nah, sekarang akan dibahas mengenai faktor-faktor apa saja yang membuat level IHSG bergerak naik atau turun. Pertama tentunya harga saham. Namun tidak hanya itu.

Kenaikan atau penurunan tajam harga satu saham memang berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Namun seberapa besar kenaikan itu mempengaruhi IHSG tergantung pada bobot saham tersebut.

Jadi sederhananya, kenaikan atau penurunan IHSG sangat bergantung pada pergerakan saham-saham berkapitalisasi besar. Berangkat dari sinilah kemudian muncul beberapa saham yang disebut-sebut sebagai motor penggerak IHSG.

Sebut saja saham PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM). Saham ini memiliki saham tercatat mencapai 20,159 miliar saham. Dengan harga saat ini sebesar Rp 8.700, maka kapitalisasi pasar TLKM mencapai Rp 175,383 triliun.

Nilai itu mencapai 10% dari total nilai kapitalisasi pasar seluruh saham di BEI yang masuk dalam penghitungan IHSG. Kapitalisasi pasar BEI saat ini sekitar Rp 1.700 triliun. Dengan kapitalisasi pasar sebesar itu, kenaikan atau penurunan harga sebesar Rp 50 poin saja akan memberikan pengaruh pada level IHSG.

Saham TLKM memang tercatat sebagai saham dengan kapitalisasi terbesar di BEI. Lain halnya dengan saham PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR). Saham BNBR yang tercatat di BEI mencapai 93,721 miliar saham, jauh lebih besar dari TLKM.

Akan tetapi, harga saham BNBR saat ini sebesar Rp 127 yang berarti nilai kapitalisasi pasar BNBR sebesar Rp 11,902 triliun. Angka tersebut tidak sampai 1% dari kapitalisasi pasar BEI.

Jadi, meskipun BNBR mengalami kenaikan harga atau penurunan harga sebesar 35% pun tidak akan memberi pengaruh besar terhadap perubahan level IHSG. Lain halnya jkalau suatu saat harga saham BNBR mencapai Rp 5.000, dapat dipastikan kenaikan atau penurunan tipis harga saham BNBR akan memberi pengaruh besar pada level IHSG.

Oleh sebab itu, jika level IHSG naik tajam, dapat dipastikan hal itu didorong oleh kenaikan harga-harga saham berkapitalisasi besar atau yang lebih dikenal sebagai Big Cap. Jadi wajar saja, kalau saham TLKM naik tajam, level IHSG pun akan terkerek naik secara tajam pula.

Kelemahan penghitungan ini adalah karena rumus ini memasukkan saham-saham yang kurang aktif diperdagangkan serta memasukkan faktor bobot atau jumlah saham secara keseluruhan dalam penghitungannya.

Contohnya, saham TLKM hanya ditransaksikan sebanyak 1 lot dan mengalami kenaikan sebesar Rp 300 hari ini. Kapitalisasi pasar yang terbentuk mewakili seluruh 20,159 miliar saham TLKM. Jadi level IHSG sudah pasti akan terangkat.

Dan metode ini ikut memasukkan saham-saham yang kurang aktif diperdagangkan, malah terkadang tergolong saham tidur. Ini akan memangkas representasi pasar IHSG secara riil, karena saham-saham yang tidak ditransaksikan ikut dimasukkan dalam penghitungannya.

Kendati demikian, BEI menganggap metode yang dipakai ini sudah cukup mewakili pergerakan seluruh saham harian di lantai bursa.

(dro/qom)