Tampilkan postingan dengan label Asia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Asia. Tampilkan semua postingan

Minggu, April 17, 2011

4 Negara Asia dengan Belanja Militer Terbesar

4 Negara Asia dengan Belanja Militer Terbesar
Sejumlah angkatan bersenjata di dunia tahun lalu menghabiskan dana US$1,63 triliun.
MINGGU, 17 APRIL 2011, 06:03 WIB
Syahid Latif

VIVAnews - Amerika Serikat (AS) selama ini terkenal sebagai pasar penghasil persenjataan dunia dan ditaksir bakal menjual hingga US$50 miliar pada tahun ini. Walaupun diketahui bisnis persenjataan dunia pada 2010 tidak akan sebaik setahun sebelumnya.

Sejumlah angkatan bersenjata di berbagai negara tahun lalu tercatat menghabiskan dana hingga US$1,63 triliun, atau naik tipis 1,3 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pengeluaran dana tersebut, termasuk untuk pembelian senjata, keperluan prajurit, serta dana untuk memelihara perlengkapan dan infrastruktur militer yang sudah dimiliki.

Berdasarkan data Stockholm International Peace Research Institute seperti dikutip VIVAnews.comdari laman 247wallst.com, Sabtu, 16 April 2011, disebutkan bahwa banyak negara yang hingga kini belum menyerah untuk mengurangi anggaran pertahanan mereka. Bahkan, belanja militer di negara-negara Afrika dan Amerika Selatan justru meningkat hingga 6 persen.

Di antara 10 negara di dunia yang mengeluarkan anggaran besar selama 10 tahun terakhir, tercatat empat negara dari kawasan Asia masuk dalam daftar tersebut. Sementara itu, dari kawasan Eropa tercatat lima negara memiliki anggaran militer terbesar yaitu Italia, Jerman, Rusia, Prancis, dan Inggris.

Posisi pertama dalam daftar 10 negara yang mengalokasikan dana terbesar dipegang oleh Amerika Serikat yang mengeluarkan dana hingga US$698 miliar. Kenaikan anggaran militer tersebut meningkat 81,3 persen dibandingkan posisi pada 2001.

Berikut empat negara Asia yang menganggarkan miliaran dolar AS selama 2010 untuk kegiatan militer :

4. India

Rudal berhulu ledak nuklir jarak jauh Agni III milik India

Belanja militer 2010: US$41,3 miliar.
Perubahan 2001-2010: 54,3 persen.
Persentase terhadap produk domestik bruto (PDB): 2,7 persen.

India menempati posisi kelima negara di Asia atau kesembilan dunia sebagai negara yang mengalokasikan dana cukup besar untuk kegiatan militernya. Anggaran belanja militer India tahun lalu sebesar US$1 miliar memang menurun jika dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, penurunan ini diperkirakan tidak bertahan lama karena pada Februari lalu, pemerintah India meningkatkan belanja militernya sebesar 11,6 persen. Hal itu dilakukan seiring makin kuatnya militer di China dan Pakistan.

3. Arab Saudi

Konvoi pasukan Arab Saudi tiba di Bahrain, 14 Maret 2011

Belanja militer 2010: US$45,2 miliar.
Perubahan 2001-2010: 63 persen.
Persentase terhadap PDB: 10,4 persen.

Tingginya anggaran belanja militer Arab Saudi tidak terlepas dari kekuatan ekonomi yang begitu besar. Anggaran sebesar US$45,2 miliar tahun lalu merupakan 10,4 persen dari total produk domestik bruto (PDB) negara Teluk ini. Persentase ini merupakan yang terbesar dibandingkan negara-negara dengan anggaran belanja terbesar dalam daftar 10 negara ini. Arab Saudi juga menjadi negara yang mengalami peningkatan belanja militer terbesar dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 4 persen.

2. Jepang

Prototipe pesawat jet siluman Jepang pada 2006

Belanja militer 2010: US$54,5 miliar.
Perubahan 2001-2010: minus 1,7 persen.
Persentase terhadap PDB: 1 persen.

Jepang selama ini sudah mempertahankan anggaran militernya hanya sebesar 1 persen terhadap PDB sejak 1967. Sebagai hasilnya, penghematan anggaran militer Jepang telah membuat perekonomian negara tersebut semakin kuat. Di saat berbagai negara Asia Timur meningkatkan belanja modal lebih dari 55 persen selama 10 tahun terakhir, Jepang justru mengalami penurunan anggaran 1,7 persen.

1. China

Para pejabat militer China berkumpul di Beijing

Belanja militer 2010: US$119 miliar (perkiraan).
Perubahan 2001-2010: 189 persen.
Persentase terhadap PDB: 2,1 persen (perkiraan).

China merupakan negara kedua di dunia yang menghabiskan dana paling besar untuk belanja militer sepanjang 2010. Negara Tirai Bambu ini juga mengalami pertumbuhan tercepat di antara negara-negara lainnya. Sejak 2001 hingga 2010, tercatat anggaran militer China mengalami pertumbuhan yang melesat hingga 189 persen. Pertumbuhan itu lebih dari dua kali lipat di antara 10 negara yang masuk dalam daftar ini.

Pelemahan ekonomi pada 2009 menyebabkan kenaikan anggaran belanja China hanya meningkat 3,8 persen. Namun, anggaran pada 2011 diperkirakan naik 12,7 persen.

Banyak analis yang yakin anggaran pertahanan China sebetulnya lebih tinggi dari laporan yang selama ini beredar di masyarakat. (art)

• VIVAnews

Selasa, Maret 15, 2011

Nuclear crisis whacks stocks in Japan, across Asia

Nuclear crisis whacks stocks in Japan, across Asia


A screen shows the share index in Asia Pacific region at the Hong Kong Stock Exchange Tuesday, March 15, 2011. Japan's Nikkei stock index nose-dived mAP – A screen shows the share index in Asia Pacific region at the Hong Kong Stock Exchange Tuesday, March …
RELATED QUOTES
HIT49.950.00
HMC38.170.00

BANGKOK – Japan's Nikkei stock index nose-dived nearly 11 percent Tuesday as the earthquake-shattered country faced an unfolding nuclear crisis after a radiation leak was detected at a crippled power plant and residents were warned to stay indoors. Other Asian markets also tumbled.

The benchmark Nikkei 225 stock average sank a staggering 10.6 percent — more than 1,000 points — to close at 8,605.15 after hitting a midday low of 8,227.63 points, more than 14 percent down. The broader Topix, meanwhile, lost 8 percent.

The Nikkei's losses followed a 6 percent tumble Monday — the first trading day since a devastating earthquake and tsunami struck the northeastern coast, washing away towns and likely killing more than 10,000 people. Losses on Monday and Tuesday have sent the Nikkei spiraling downward 20 percent since the beginning of the year.

Other Asian markets were sharply down because large Japanese investors such as insurance companies and hedge funds pulled money from overseas and repatriated it ahead of the mammoth job of rebuilding, according to Tom Kaan, head of equity sales at Louis Capital Markets in Hong Kong.

Investors felt the biggest shock waves when Japan's Prime Minister Naoto Kan announced that radioactive material had leaked from the Fukushima Dai-ichi nuclear plant in Fukushima province and that more leaks were possible.

"There is also fear of contamination. We've never had three nuclear power plants blowing up one after the other," Kaan said. "When you have a situation like that, everyone takes to the extreme of being conservative. How far will it affect the air that we breath and how far the contamination will go? Is it going to reach Korea or China? That's anyone's guess."

Kaan said the Middle East crisis was still far from over and had the potential to further damage markets, oil prices, and the global economic recovery — especially if the political turmoil and violence that has hit countries like Egypt and Libya spreads to oil powerhouse Saudi Arabia.

The stock sell-off in Tokyo hit nearly every business sector, with electric companies under intense pressure again. The Tokyo Electric Power Co., which operates the crippled nuclear plant, crashed 24.7 percent. Toshiba Corp., a maker of nuclear power plants, sagged 19.5 percent.

Other companies with nuclear power-related businesses faced a second day of free-falling losses. Mitsubishi Heavy Industries tumbled 10.9 percent, Kobe Steel Ltd. dived 12.1 percent, and Hitachi Ltd. shed 12.6 percent. Cosmo Oil, whose refinery caught fire after the quake, slid by 9 percent.

Car makers declined partly because quake-stricken northeastern Japan is a major center for auto production, complete with a myriad of parts suppliers and a network of roads and ports for efficient distribution.

Toyota Motor Corp. said it would suspend manufacturing at its domestic plants through Wednesday — a production loss of 40,000 cars. Other manufacturers like Sony Corp. and Honda Motor Co. were also forced to halt production. Damage to roads and distribution system made it all but impossible to move products.

Toyota, the world's largest automaker, fell 7.4 percent. Honda lost 3.9 percent and Nissan Motor Corp. dropped 3.3 percent. Mitsubishi Motors Corp. lost 9.3 percent and truck-maker Isuzu Motors Ltd. plunged 9.2 percent.

High-tech suppliers like Elpida Memory Inc., the world's No. 3 maker of computer-memory chips and a leading manufacturer of DRAM, slid 9.7 percent.

Ports were closed, steel plants stopped producing, and the country was being urged to conserve power. With manufacturing all but paralyzed, exporters were also hammered — Panasonic Corp. was down 11.2 percent, Sharp Corp. slid 8.5 percent, and Sony Corp. lost 8.9 percent.

Fears about the safety of nuclear power weighed on the shares of companies involved in uranium mining. Energy Resources of Australia Ltd., one of the world's largest uranium producers, fell 14.3 percent in Sydney.

Even the rare stocks that did well Monday — industrial and materials companies, which gained due to expectations that they would benefit when Japan rebuilds — tumbled Tuesday.

Japanese construction company Kajima Corp. dropped 13.1 percent and Nishimatsu Construction Co. Ltd. skidded 23.5 percent. Analysts said that while the Japanese economy remained virtually shut down, companies in China and elsewhere could fill the void.

Elsewhere in Asia, South Korea's Kospi was down 2.4 percent to 1,923.92, and Australia's S&P/ASX 200 fell 2.1 percent to 4,528.70. Hong Kong's Hang Seng index slumped 3.3 percent to 22,568.28, and mainland China's Shanghai Composite Index lost 2 percent to 2,879.09.

On Wall Street Monday, concerns over the economic impact of the earthquake and tsunami in Japan led to a broad sell-off. The Dow Jones industrial average lost 51.24, or 0.4 percent, to 11,993.16.

The broader S&P index fell 7.89 points, or 0.6 percent, to 1,296.39. Nine out of the 10 sectors that make up the Standard and Poor's 500 index lost ground. Utilities companies fell 1.4 percent, the most of any group.

The Nasdaq composite dipped 14.64, or 0.5 percent, to 2,700.97.

Benchmark crude for April delivery dropped $1.99 to $99.20 a barrel in electronic trading on the New York Mercantile exchange. The contract added 3 cents to settle at $101.19 on Monday.

The dollar was worth 81.79 Japanese yen Tuesday, down from 81.88 yen late Friday. A major natural disaster like an earthquake can bolster the yen because investors expect the Japanese public and insurance companies to buy back their home currency in order to fund the country's reconstruction, increasing demand for the yen.

The euro fell to $1.3940 from $1.3995.

http://news.yahoo.com/s/ap/20110315/ap_on_bi_ge/world_markets

Jumat, Juli 30, 2010

Harga Minyak di Asia Melemah

Harga Minyak di Asia Melemah
Beberapa analis memprediksi bahwa ekonomi global akan melambat pada paruh kedua tahun ini
JUM'AT, 30 JULI 2010, 17:18 WIB
Renne R.A Kawilarang, Harriska Farida Adiati

VIVAnews - Harga minyak mentah untuk perdagangan Asia di bursa New York melemah hingga mendekati ambang bawah US$78 per barel. Penurunan ini menyusul pelemahan indeks di pasar-pasar saham Asia.

Bursa-bursa saham utama di Asia melemah karena kabar mengecewakan dari Jepang menjelang laporan pertumbuhan ekonomi triwulan kedua Amerika Serikat (AS) tahun ini.

Berdasarkan transaksi elektronik, yang dipantau pada Jumat sore waktu Singapura, harga minyak mentah untuk pengiriman September turun 35 sen menjadi US$78,01 per barel. Pada transaksi langsung di bursa New York dini hari tadi, harga minyak sempat menguat US$1,37 menjadi US$78,36 per barel.

Sebagian besar indeks utama Asia ditutup melemah setelah indeks saham industri Dow Jones turun 0,3 persen pada perdagangan Kamis. Sejumlah kabar buruk juga datang dari Jepang. Pemerintah Negeri Matahari Terbit itu melaporkan tingkat pengangguran yang meningkat, merosotnya harga-harga konsumen, serta turunnya produksi manufaktur.

Investor juga merasa was-was menantikan angka pertumbuhan ekonomi AS untuk triwulan kedua tahun 2010 yang akan dirilis Jumat ini. Analis memperkirakan, Produk Domestik Bruto (PDB) akan mencapai 2,5 persen dalam triwulan April hingga Juni, turun dari 2,7 persen pada triwulan pertama.

Beberapa analis memprediksi bahwa ekonomi global akan melambat pada paruh kedua tahun ini. Kondisi ini akan membebani permintaan minyak mentah. "Pemulihan global mengarah ke gerak lambat sehingga akan membuat pasokan minyak untuk pasar sangat mencukupi, yang pada akhirnya makin menekan harga minyak," kata Saxo Capital dalam sebuah laporan.

Saxo memperkirakan harga minyak akan turun mencapai US$60 pada akhir tahun ini. Sementara itu, harga minyak Brent turun 64 sen menjadi US$76,95 per barel di bursa London. (Associated Press)

• VIVAnews

Sabtu, November 14, 2009

Indonesia Pimpin Kesepakatan Broadband Economy

Sabtu, 14/11/2009 08:50 WIB

Indonesia Pimpin Kesepakatan Broadband Economy Asia Pasifik
Achmad Rouzni Noor II - detikinet

Ilustrasi (Ist)


Jakarta
- Indonesia yang menjadi tuan rumah pertemuan 29 menteri teknologi informasi dan telekomunikasi se-Asia Pasifik di Nusa Dua, Bali, memimpin kesepakatan untuk memperkuat kerja sama regional dalam mengembangkan ekonomi berbasis teknologi broadband.

Kesepakatan yang terangkum dalam deklarasi bersama Bali Statement di ajang Asia-Pacific Telecommunity (APT) 2009 akan mendorong pembentukan kerjasama regulatory, investasi, dan kompetisi dalam penyediaan layanan broadband.

"Dari kesepakatan pertemuan hari ini kami akan meninjau kembali kebijakan yang tidak pro kompetisi dan pro investasi," ujar Kepala Pusat Informasi Depkominfo, Gatot S Dewa Broto, lewat sambungan telepon.

Indonesia sendiri dalam hal pengembangan konektivitas broadband berencana untuk fokus terhadap Palapa Ring dan meningkatkan proyek universal service obligation (USO) menjadi broadband service obligation (BSO).

Dana USO nanti akan dikembangkan untuk memperluas penggunaan broadband. Proyek USO nanti bukan hanya teleponi dasar atau Desa Berdering melainkan Desa Pintar yang menawarkan akses data internet dengan teknologi broadband di kecamatan.

"Palapa Ring akan jadi acuan pilot project bagi negara lain karena tingkat kesulitannya sangat tinggi," lanjut Gatot.

Gatot menjelaskan negara anggota juga akan didorong untuk membentuk badan regulatori yang mencakup tugas pokok dan fungsi di bidang regulasi telekomunikasi, IT, dan penyiaran. Negara di Asia Pasifik juga akan mengimplementasikan skema perizinan yang berbasis teknologi netral dan penggunaan layanan konvergensi.

Gatot menambahkan khusus pada kerja sama regional akan dilakukan studi dan kegiatan berbagi informasi dalam penggunaan gelombang radio, serta direncanakan mengembangkan jaringan APT Frequency Information System (AFIS).

( rou / ash )