Tampilkan postingan dengan label Wall Street. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wall Street. Tampilkan semua postingan

Sabtu, September 03, 2011

Data Tenaga Kerja Stagnan, Wall Street Ambruk

Sabtu, 03/09/2011 10:30 WIB
Data Tenaga Kerja Stagnan, Wall Street Ambruk  
Angga Aliya - detikFinance 


Foto: Reuters
Jakarta - Pasar saham Wall Street jatuh 2% pada perdagangan Jumat waktu setempat akibat stagnannya data tenaga kerja di bulan Agustus. Investor makin khawatir Amerika Serikat (AS) akan masuk kembali ke masa resesi.

Koreksi tersebut membuat bursa Paman Sam itu melemah sepanjang enam pekan dalam dua bulan terakhir. Saham-saham yang berhasil menguat pun terbebani oleh sentimen negatif itu dalam perdagangan yang tipis menjelang libur hari buruh.

Pasar modal sempat naik pada pembukaan perdagangan atas ekspektasi adanya stimulus dari Federal Reserve untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Namun, laporan terakhir dari Departemen Tenaga Kerja menunjukkan The Fed tidak bisa berdiri sendiri dalam menyelesaikan masalah ekonomi tersebut.

"Kalau hanya sendirian, The Fed tidak bisa memulihkan kepercayaan masyarakat apalagi menciptakan lapangan kerja, jadi langkah apapun yang mereka ambil tidak akan mengubah prospek pertumbuhan ekonomi," kata Kepala Investasi BNY Mellon Wealth Management Leo Grohowski di New York, seperti dikutip dari Reuters, Sabtu (3/9/2011).

Saham-saham bank lagi-lagi menderita koreksi paling banyak, dengan saham Bank of America Corp jatuh 8,3% ke US$ 7,25 per saham, menjadi top loser di Dow Jones. Saham JPMorgan Chase & Co ambruk 4,6% ke US$ 34,63 dan indeks bank KBW kehilangan 4,5%.

Sama sekali tidak ada pertumbuhan dalam data tenaga kerja non pertanian di bulan Agustus, kepercayaan diri warga sudah turun akibat tidak adanya perusahaan yang mau menambah karyawan. Hal ini menekan The Fed untuk segera menyediakan stimulus untuk perekonomian.

Presiden AS Barack Obama, pada pidatonya Kamis lalu mengatakan, pemerintah setempat akan meluncurkan sebuah program yang diharapkan bisa menyediakan lapangan pekerjaan dan meningkatkan penerimaan pajak.

Indeks Dow Jones jatuh 253,16 poin (2,20%) ke level 11.240,41. Indeks Standard & Poor's 500 melemah 30,46 poin (2,53%) ke level 1.173,96. Indeks Komposit Nasdaq turun 65,71 poin (2,58%) ke level 2.480,33.

(ang/ang)

Kamis, Agustus 11, 2011

Wall Street Tumbang oleh Rumor 'Kesehatan Ekonomi' Prancis

Kamis, 11/08/2011 05:57 WIB
Wall Street Tumbang oleh Rumor 'Kesehatan Ekonomi' Prancis
Nurul Qomariyah - detikFinance

Foto: Reuters
New York - Bursa Wall Street kembali dilanda aksi jual besar dipicu oleh kekhawatiran krisis akan menular ke Prancis. Pasar saham sempat dilanda rumor tentang kesehatan fiskal perbankan Prancis.

Investor mendapatkan rumor Prancis dan bank-bank terbesarnya kemungkinan mengalami penurunan peringkat, layaknya Amerika Serikat. Rumor tersebut langsung membuat pasar saham Eropa merosot dan menular ke AS.

Perdagangan kembali berjalan sangat fluktuatif dalam volume perdagangan yang sangat besar. Untuk 5 hari berturut-turut, indeks Dow Jones industrial berfluktuati dalam kisaran hingga 400 poin.

"Apa yang Anda lihat adalah pasar yang berorientasi arah berjangka sangat pendek," ujar Eric Kuby, chief investment officer North Star Investment Management seperti dikutip dari Reuters, Kamis (11/8/2011).

"Penurunan peringkat AS yang mengerikan masih segar dalam ingatan para pialang, sehingga ancaman penurunan yang sama untuk Prancis hanya akan membuka luka di Wall Street," ujar Andrea Kramer, analis dari Schaeffer's Investment Research seperti dikutip dari AFP.

Kekhawatiran tentang kekuatan bank-bank di Prancis termasuk Societe Generale telah memicu aksi jual besar saham-saham di Eropa dan AS. Rumor tentang kesehatan kondisi keuangan SocGen, meski telah dibantahnya, membuat saham bank asal Prancis tersebut tumbang 14,7%.

Pada perdagangan Rabu (10/8/2011), indeks Dow Jones industrial average ditutup merosot 519,83 poin (4,62%) ke level 10.719,94. Indeks Standard & Poor's 500 juga melemah 51,77 poin (4,42%) ke level 1.120,76 dan Nasdaq merosot 101,47 poin (4,09%) ke level 2.381,05.

Indeks bank Eropa ambles 6,7%, indeks KBW bank-bank AS merosot 4,9% karena kekhawatiran krisis baru di Prancis. Saham Bank of America Corp ambles 10,9% menjadi US4 6,77, Goldman Sachs merosot lebih dari 10% menjadi US$ 110,34, Citigroup merosot 10%.

Saham Walt Disney Co merosot hingga 9,1% menjadi US$ 31,54, sehari setelah perusahaan entertain itu mengumumkan laporan keuangan yang gagal memberikan jaminan kepada investor bahwa mereka bisa bertahan menghadapi lemahnya perekonomian.

Perdagangan berjalan sangat ramai, dengan volume transaksi di New York Stock Exchange mencapai 15,1 miliar lembar saham, hampir 2 kali lipat rata-rata harian yang diperkirakan mencapai 7,8 miliar lembar saham.

(qom/qom)

Sabtu, Agustus 06, 2011

Wall Street closes worst week since Nov '08 with wild day

Wall Street closes worst week since Nov '08 with wild day

NEW YORK (Reuters) - Stocks closed out their worst week in more than two years on Friday in a volatile session that saw the major indexes whip back and forth before the S&P 500 ended down less than a point.

More than 15.9 billion shares -- or more than twice the daily average volume -- traded in the busiest day in more than a year as investors plowed into cash-rich mega-cap stocks that had been beaten down in recent days as the market dropped.

The market's swings on Friday were fast and furious, with the Dow Jones industrial average covering 416.41 points from its session high to its intraday low.

The intense selling this week reflects frustration with sluggish economic growth and politicians' inability to address pressing concerns over high public debt in Europe and the United States.

Options volume hit a record, a sign investors were protecting their portfolios from further declines. The CBOE Volatility Index or VIX, Wall Street's so-called fear gauge, rose as high as 39.25 earlier, its highest level since May 2010, but ended at 32, up 1.1 percent.

"Still, the volatility index is up almost 90 percent during the past two weeks, as fears about the European debt crisis, the global economy and earnings have taken a heavy toll on investor sentiment," said Joe Cusick, senior market analyst at online brokerage optionsXpress in Chicago.

The S&P 500 is now down 12 percent from its April 29 closing high.

Markets have been looking to European officials for guidance as to how the region's debt crisis will be managed. Part of the loss of confidence stemmed from what investors called an inadequate response to the growing threat to large euro-zone economies Spain and Italy and banks' exposure to their troubled debt.

In the United States, non-farm payrolls data showed a gain of 117,000 jobs in July compared with a forecast for an increase of 85,000, while the country's unemployment rate dipped to 9.1 percent last month from 9.2 percent in June, the Labor Department reported.

The Dow Jones industrial average rose 60.93 points, or 0.54 percent, to end at 11,444.61. But the Standard & Poor's 500 Index edged down just 0.69 of a point, or 0.06 percent, to finish at 1,199.38. The Nasdaq Composite Index slipped 23.98 points, or 0.94 percent, to close at 2,532.41.

On the New York Stock Exchange, decliners beat advancers by a ratio of about 3 to 1, while on the Nasdaq, more than two stocks fell for every one that rose.

For the week, the Dow fell 5.8 percent, the S&P 500 was down 7.2 percent and the Nasdaq was off 8.1 percent.

Among individual stocks, Bank of America and Citigroup continued their declines, with both stocks hitting a new 52-week low.

Bank of America shares fell 7.5 percent to $8.17, off a 52-week low at $8.03, and Citigroup dropped 3.9 percent to $33.44, off a 52-week low at $31.81.

Italian Prime Minister Silvio Berlusconi said his country will introduce a constitutional principle of a balanced budget in an effort to reduce debt levels.

Helping the market erase hefty losses in afternoon trade, sources said the European Central Bank was ready to buy Italian and Spanish bonds if Berlusconi commits to bringing forward specific reforms.

Exchange-traded funds tracking Italian and Spanish stocks rose. The iShares MSCI Italy Index jumped 5.5 percent, while the iShares MSCI Spanish Index advanced 6.5 percent.

But a possible S&P downgrade of U.S. debt after the market close pressured stocks throughout the day.

The recent steep sell-off has put all three major indexes in negative territory for the year.

On Friday, Credit Suisse reduced its year-end view of the S&P 500 to 1,350 from 1,450, citing weaker-than-expected growth.

(Additional reporting by Doris Frankel and Caroline Valetkevitch; Editing by Jan Paschal)

http://news.yahoo.com/wall-street-suffers-worst-selloff-two-years-041259492.html

Kamis, Juni 02, 2011

Bursa Asia Rontok Ikuti Wall Street

Kamis, 02/06/2011 14:40 WIB
Bursa Asia Rontok Ikuti Wall Street
Nurul Qomariyah - detikFinance


Foto: Reuters

Tokyo - Bursa-bursa Asia Pasifik bergerak melemah, mengikuti kejatuhan di bursa Wall Street akibat data ekonomi negatif. Investor beramai-ramai keluar untuk sementara dan menghindari aset-aset yang berisiko.

Pada perdagangan Kamis (2/6/2011), bursa Tokyo ditutup merosot 164,04 poin (1,69%) ke level 9.555,04. Bursa Seoul merosot 1,27% (27,14 poin) ke level 2.114,20 dan Sydney merosot 106,9 (2,27%) ke level 4.600,4. Hingga sesi siang, bursa Hong Kong juga merosot 1,50% dan Shanghai merosot 1,86%.

Pelemahan bursa-bursa Asia Pasifik ini terjadi setelah bursa Wall Street tadi malam merosot, merespons data negatif seputar pasar tenaga kerja. Menurut ADP, pekerja sektor swasta AS bertambah 38.000 pada Mei, atau terendah sejak September 2010 atau lebih rendah dari ekspektasi. Sementara Institute for Supply Management juga melaporkan data yang melemah sehingga menekan lagi dolar AS.

"Data ekonomi AS tidak baik, China sepertinya masih pada jalan kenaikan suku bunga pada Juni, Moody's memangkas peringkat Yunani dan politik di Jepang sedang mengalami kehancuran. Jadi kita memiliki faktor jual yang melapisi hari ini," ujar Norihiro Fujito, analis senior Mitsubishi UFJ Morgan Stanley Securities seperti dikutip dari AFP.

Di Bursa Australia, dana sebesar Aus$ 30 miliar atau sekitar US$ 32 miliar keluar dari pasar sehingga menyebabkan penurunan indeks saham yang cukup tajam.

"Setelah aksi jual besar di pasar AS karena data manufaktur yang buruk dan laporan tenaga kerja sektor swasta, pasar lokal sepertinya dalam tekanan jual yang besar," ujar Ben Potter, analis dari IG Markets.

Seperti diketahui, bursa Wall Street tadi malam turun cukup tajam. Pada perdagangan Rabu (2/5/2011), indeks Dow Jones industrial average ditutup merosot 279,42 poin (2,22%) ke level 12.290,37. Indeks Standard & Poor's 500 juga melemah 30,66 poin (2,28%) ke level 1.314,54 dan Nasdaq melemah 66,11 poin (2,33%) ke level 2.769,19.

(qom/qom)

Rabu, Maret 16, 2011

Wall Street Terhindar dari Kejatuhan Parah, Harga Minyak Anjlok 4%

Rabu, 16/03/2011 06:58 WIB
Wall Street Terhindar dari Kejatuhan Parah, Harga Minyak Anjlok 4%
Nurul Qomariyah - detikFinance

Foto: Reuters
New York - Bursa Wall Street terhindar dari kejatuhan terdalam akibat krisis nuklir di Jepang, berkat komentar dari Bank Sentral Amerika (Federal Reserve). Sementara harga minyak mentah tercatat merosot hingga 4%.

Saham-saham sempat mengalami kejatuhan dalam sebelum akhirnya sedikit tertolong oleh komentar The Fed tentang pandangan perekonomian yang lebih baik. Investor juga meyakini dampak krisis nuklir di Jepang bakal sementara saja menekan harga saham-saham.

"Sementara proyeksi kecelakaan nuklir menakutkan, isu nuklir lainnya memiliki dampak yang sedikit pada saham-saham di AS dan itu kemungkinan adalah skenario terbesar disini," ujar Jim McDonald, chief investment strategist Northern Trust Global Investment seperti dikutip dari Reuters, Rabu (16/3/2011).

Pada perdagangan Selasa (15/3/2011), indeks Dow Jones industrial average (DJIA) ditutup merosot 137,74 poin (1,15%) ke level 11.855,42. Indeks Standard & Poor's 500 juga merosot 14,52 poin (1,12%) ke level 1.281,87 dan Nasdaq melemah 33,64 poin (1,25%) ke level 2.667,33.

Anjloknya indeks saham terjadi dalam volume perdagangan yang cukup besar, dengan transaksi di New York Stock Exchange mencapai 10,05 miliar lembar saham, di bawah rata-rata harian tahun lalu yang sebesar 8,47 miliar.

Bank Sentral AS dalam pertemuan rutinnya kembali mempertahankan suku bunga rendah dan stimulus fiskalnya dalam rangka mendongkrak perekonomian meski proses pemulihan ekonomi tetap berjalan. The Fed juga menilai tingkat pengangguran mulai berkurang, belanja konsumen meningkat dan pebisnis lebih optimistis.

"Proses pemulihan ekonomi berada pada jalan yang benar dan kondisi keseluruhan di pasar perburuhan membaik secara bertahan," demikian pernyataan dari Federal Open Market Committee.

Sejak pertemuan pada Januari lalu, tingkat pengangguran sudah turun dari 9,4% menjadi 8,9%.

Selain merontokkan pasar saham, krisis nuklir di Jepang juga telah membuat harga minyak anjlok. Minyak light sweet pengiriman April merosot 4,01% ke level US$ 97,18 per barel. Minyak Brent turun 5,15 dolar ke level US$ 108,52 per barel.

"Banyak ketidakpastian di pasar saat ini. Pasar minyak sedang dalam trend turun, mengikuti jatuhnya bursa saham dan anjloknya Nikkei hingga 10% sehubungan kekhawatiran krisis nuklir di Jepang," ujar Myrto Sokou, analis dari Sucden seperti dikutip dari AFP.


(qom/qom)

Minggu, Januari 09, 2011

Angka Pengangguran 'Segarkan' Wall Street

Kamis, 06/01/2011 07:36 WIB
Angka Pengangguran 'Segarkan' Wall Street
Nurul Qomariyah - detikFinance

Foto: Reuters


New York
- Penciptaan lapangan kerja baru yang lebih besar langsung mengubah arah bursa Wall Street ke teritori positif. Investor semakin meyakini proses pemulihan ekonomi semakin berjalan baik.

Pada perdagangan Rabu (5/1/2011), indeks Dow Jones industrial average menguat 31,71 poin (0,27%) ke level 11.722,89. Indeks Standard & Poor's 500 juga menguat 6,36 poin (0,50%) ke level 1.276,56 dan Nasdaq menguat 20,95 poin (0,78%) ke level 2.702,20.

Jumlah tenaga kerja swasta bertambah 297.000 selama Desember. Laporand ari ADP Employer Services itu menunjukkan angka 3 kali lipat dari proyeksi ekonom dan lonjakan besar untuk angka ADP .

"Perekonomian secara jelas meningkat. Sulit untuk membuat kasus di pasar agar melemah dalam 6 bulan pertama tahun ini," ujar Edward Hemmelgarn, presiden Shaker Investment seperti dikutip dari Reuters, Kamis (6/1/2011).

Saham-saham sektor finansial memimpin kenaikan, terutama dari Capital One Finance Corp yang melonjak hingga 4,2%, dengan indeks konsumer finansial S&P, GSPCFI naik hingga 2,8%.

Data lain juga memicu kenaikan saham-saham sektor perumahan, dengan indeks perumahan PHLX menguat hingga 1,8%. Saham pengembang DR Horton naik hingga 3,2%.

Namun saham-saham sektor komoditas masih melanjutkan pelemahannya. Saham sektor materiam, termasul Alcoa Inc tercata hanya naik 0,2%,

"Melanjutkan penurunan komoditas kemarin, investor hanya mengambil sedikit bagian hari ini, tidak yakin jika masih ada koreksi lanjutan di pasar," ujar Michael Sheldon, chief market strategist dari RDM Financial.

Volume perdagangan cukup semarak, dengan transaksi di New York Stock Exchange mencapai 8,21 miliar lembar saham, sedikit di bawah rata-rata tahun lalu yang mencapai 8,47 miliar lembar saham.

(qom/qom)

Saham Bank Ditinggal Investor, Wall Street Terkoreksi

Sabtu, 08/01/2011 10:19 WIB
Saham Bank Ditinggal Investor, Wall Street Terkoreksi
Angga Aliya - detikFinance



(Ilustrasi Foto: Reuters)
Jakarta - Bursa saham Wall Street terkoreksi menyusul putusan bersalah oleh pengadilan dalam kasus perbankan sehingga membuat investor melepas saham-saham bank. Belum lagi ditambah pengumuman data pengangguran.

Meski ada koreksi, Indeks S&P 500 dan Dow Jones berhasil mencetak rekor enam pekan penguatan berturut-turut. Pasar masih bisa bertahan di tengah fakta banyak saham yang dilepas investor.

Wells Fargo & Co dan US Bancorp kalah dalam putusan pengadilan Massachusetts, yang mengatakan bahwa dua bank itu gagal mengendalikan kredit perumahannya.

Putusan pengadilan itu merupakan yang pertama kali dilakukan dengan penyitaan tanpa dokumentasi lengkap, dan kegagalan kredit perumahan yang sedang berlangsung itu bisa berdampak buruk bagi bank. Berita itu memaksa indeks bergerak turun, tetapi beberapa pihak mengatakan reaksi pasar terlalu berlebihan.

"Sektor finansial selalu menjadi pemimpin penguatan pasar di pekan-pekan terakhir ini. Berita ini bisa menghentikan laju sektor itu (finansial)," kata Senior Analis Indeks Ekuitas MF Global, Nick Kalivas, di Chicago seperti dikutip dari Reuters, Sabtu (8/1/2011).

Saham Wells Fargo anjlok 2% ke US$ 31,50 dan US Bancorp melemah 0,8% ke posisi US$ 25,09. Indeks Bank di KBW kehilangan 0,9%.

Sektor finansial di Indeks S&P sudah menguat lebih dari 10% di bulan Desember lalu, saat investor mencari investasi menarik akhir tahun.

Pada penutupan perdagangan, Jumat (7/1/2011) waktu setempat, Indeks Dow Jones melemah 22,55 poin (0,19%) ke level 11.674,76. Indeks Standard & Poor's 500 turun tipis 2,35 poin (0,18%) ke level 1.271,50, sementara Indeks Komposit Nasdaq terkoreksi 6,72 poin (0,25%) ke level 2.703,17.

Dalam sepekan, Indeks S&P 500 merekah 1,1%, Dow Jones menguat 0,8% dan Nasdaq mendaki 1,9%.


(ang/ang)

Selasa, November 30, 2010

Krisis Eropa Masih Tekan Wall Street

Selasa, 30/11/2010 07:03 WIB
Krisis Eropa Masih Tekan Wall Street
Nurul Qomariyah - detikFinance



Foto: Reuters
New York- Bursa Wall Street ditutup melemah dalam volume perdagangan yang sangat tipis. Investor masih mengkhawatirkan nasib krisis di Eropa, meski sudah ada kesepakatan untuk membantu Irlandia dengan bailout 85 miliar euro.

Namun pelemahan saham-saham berkurang seiring menguatnya saham-saham energi dan finansial di sesi akhir. Tipisnya volume perdagangan membuat perdagangan berjalan sangat volatile.

Pada perdagangan Senin (29/11/2010), indeks Dow Jones Industrial Average ditutup melemah 39,51 poin (0,26%) ke level 11.052,49. Indeks Standard & Poor's 500 juga melemah 1,64 poin (0,14%) ke level 1.187,76 dan Nasdaq melemah 9,34 poin (0,37%) ke level 2.525,22.

Seiring krisis yang terjadi di Eropa, korelasi antara mata uang tunggal euro dan pergerakan saham dalam beberapa pekan terakhir sangat erat. Seiring krisis di Eropa, para pialang melepas euro dan saham-saham secara bersamaan.

"Katakan kepada saya kemana euro pergi dan saya akan mengatakan kepada Anda dimana pasar saham akan pergi," ujar Michael James, pialang senior Wedbush Morgan seperti dikutip dari Reuters, Selasa (30/11/2010).

Saham-saham energi menguat seiring lonjakan harga minyak mentah dunia hingga 2,3%. Saham Exxon Mobil tercatat menguat 0,3% menjadi US$ 69,45, setelah sebelumnya sempat melemah.

Sementara saham-saham perbankan juga mengalami perbaikan setelah sebelumnya merosot tajam. Indeks bank KBW naik 1% berkat kenaikan saham Bank of America hingga 1,5% menjadi US$ 11,31.

(qom/qom)

Rabu, Oktober 20, 2010

Keputusan China dan Gugatan Perbankan Rontokkan Wall Street

Rabu, 20/10/2010 06:57 WIB
Keputusan China dan Gugatan Perbankan Rontokkan Wall Street
Nurul Qomariyah - detikFinance

Foto: Reuters
New York- Saham-saham di bursa Wall Street kembali rontok dipicu kekhawatiran terhadap sektor perbankan AS yang kemungkinan akan menghadapi gugatan miliaran dolar karena salah pengelolaan surat utang sektor perumahan.

Aksi jual semakin deras setelah China memutuskan untuk mengetatkan kredit dengan menaikkan suku bunga. Sementara Nasdaq terpangkas oleh kekecewaan terhadap hasil laporan keuangan Apple dan IBM.

Kekhawatiran terbesar investor datang setelah keluarnya berita bahwa Bank of America dan kemungkinan bank-bank lain harus mengambil lagi miliaran dolar kredit sektor perumahan yang seharusnya tidak di-bundling ke obligasi.

Sentimen negatif juga datang dari China yang untuk pertama kalinya menaikkan suku bunga sejak tahun 2007. Kenaikan suku bunga itu ditujukan untuk mengatasi inflasi dan melonjaknya harga-harga rumah.

Pada perdagangan Selasa (19/10/2010), indeks Dow Jones ditutup merosot 165,14 poin (1,48%) ke level 10.978,55. Indeks Standard & Poor's 500 juga melemah 18,84 poin (1,59%) ke level 1.165,90 dan Nasdaq melemah 43,71 poin (1,76%) ke level 2.436,95.

"Ini mengingatkan investor bahwa apa yang menjadi penyebab utama aksi jual yang dialami beberapa tahun lalu," ujar Eric Kuby, chief investment officer North Star Invesment Management seperti dikutip dari
Reuters, Rabu (20/10/2010).

Saham Bank of America tercatat merosot hingga 4,4% menjadi US$ 11,80, atau merupakan harga terendah sejak Juni 2009. Saham Bank of America merosot setelah Bloomberg melaporkan investor PIMCO dan BlackRock dan juga Bank Sentral New York berupaya memaksa bank terbesar AS itu untuk membeli kembali surat utang perumahan US$ 47 miliar.

Sedangkan keputusan China untuk menaikkan suku bunga akhirnya membuat dolar AS menguat dan pada akhirnya memicu kemerosotan harga komoditas. Harga emas tercatat merosot hingga hampir 3%, harga minyak mentah merosot 4,5% hingga di bawah US$ 80 per barel.

Saham-saham sektor komoditas pun ikut terseret. Saham Exxon Mobil turun 1,8%, dan indeks energi S&P turun 2,4%. Saham Caterpillar Inc turun hingga 2,1% dan menjadi pelemahan terbesar di Dow Jones.

Saham Apple turun hingga 2,7% setelah mengumumkan penjualan iPad lebih rendah dari ekspektasi pasar. Demikian pula saham IBM yang turun 3,4% meski mengumumkan laba yang cukup kuat.

Perdagangan berjalan sangat ramai dengan transaksi di New York Stock Exchange mencapai 9,83 miliar lembar saham, di atas rata-rata tahun ini yang mencapai 8,77 miliar.


(qom/qom)

Jumat, Oktober 15, 2010

Saham Bank Rontok di Wall Street

Jumat, 15/10/2010 07:16 WIB
Saham Bank Rontok di Wall Street
Nurul Qomariyah - detikFinance



Foto: Reuters
New York- Rontoknya saham-saham perbankan menyeret bursa Wall Street ke teritori negatif. Saham perbankan rontok menyusul rencana 50 negara bagian di AS untuk melakukan investigasi sektor perumahan AS.

Investor khawatir investigasi itu akan menggerus pendapatan perbankan sehingga mengikis harapan akan hadirnya stimulus perekonomian.

Pada perdagangan Kamis (14/10/2010), indeks Dow Jones ditutup melemah tipis 1,51 poin (0,01%) ke level 11.094,57. Indeks Standard & Poor's 500 juga melemah 4,29 poin (0,36%) ke level 1.173,81 dan Nasdaq melemah 5,85 poin (0,24%) ke level 2.435,38.

Saham-saham perbankan mengalami kemerosotan yang cukup besar, JPMorgan Chase & Co turun 2,8%, Bank of America merosot 5,2% dan indeks bank KBW anjlok 2,6%.

Indeks S&P 500 telah menguat hingga 11,9% sejak 1 September dan volume perdagangan juga sudah mulai besar. Namun rally saham itu akhirnya terhadang oleh anjloknya saham-saham perbankan hingga hampir 3% karena kekhawatiran masalah penyitaan rumah dapat meluas ke sektor kredit dan perekonomian.

"Sebaik yang kita ketahui, pasar benci ketidakpastian dan ini adalah salah satu yang terbesar. Masih ingat kekacauan sektor subprime?" ujar Joe Saluzzi, analis dari Themis Trading seperti dikutip dari Reuters, Jumat (15/10/2010).

Sementara sektor teknologi terus menunjukkan kekuatannya, setelah Google mengumumkan labanya yang melebihi ekspektasi. Raksasa mesin pencari itu sahamnya langsung melesat hingga 9% pada perpanjangan perdagangan.

Volume perdagangan cukup besar, mencapai 9,04 miliar lembar saham, di atas rata-rata tahun ini yang mencapai 8,78 miliar lembar saham.
(qom/qom)

Selasa, September 21, 2010

Resesi Dinyatakan Berakhir, Wall Street Melesat

Selasa, 21/09/2010 07:03 WIB
Resesi Dinyatakan Berakhir, Wall Street Melesat
Nurul Qomariyah - detikFinance


New York- Bursa Wall Street melesat ke titik tertingginya dalam 4 bulan terakhir, dipicu optimisme investor setelah adanya kabar yang menyebutkan resesi di AS secara resmi sudah berakhir sejak Juni 2009.

Investor kembali bersemangat setelah Biro Riset Ekonomi Nasional AS mengatakan, resesi terpanjang yang terjadi sejak perang dunia II secara resmi sudah berakhir pada Juni 2009. Namun itu tidak berarti perekonomian AS sudah berakhir pada kapasitas normalnya.

"Pengumuman dari Biro Riset Ekonomi Nasional itu adalah senjata yang manis, secara psikologis karena memberikan perkembangan lebih besar dari yang diharapkan pasar," ujar Bruce McCain, chief investment strategist Key Private Bank seperti dikutip dari Reuters, Selasa (21/9/2010).

Pada perdagangan Senin (20/9/2010), indeks Dow Jones ditutup menguat 145,77 poin (1,37%) ke level 10.753,62. Indeks Standard & Poor's 500 juga mengat 17,12 poin (1,52%) ke level 1.142,71 dan Nasdaq menguat 40,22 poin (1,74%) ke level 2.355,83.

Namun volume perdagangan masih sangat tipis yakni hanya sebesar 7,16 miliar lembar saham, di bawah rata-rata tahun lalu yang mencapai 9,65 miliar lembar saham.

Penguatan saham-saham terjadi sehari menjelang pertemuan Bank Sentral AS pada Selasa ini. The Fed diprediksi akan mempertahankan suku bunga rendah di kisaran 0-0,25% dan juga kebijakan moneternya guna mendukung pemulihan ekonomi AS.

(qom/qom)

Rabu, September 01, 2010

Wall Street Catat Agustus Terburuk Sejak 2001

Rabu, 01/09/2010 07:47 WIB
Wall Street Catat Agustus Terburuk Sejak 2001
Nurul Qomariyah - detikFinance


Foto: Reuters
New York- Saham-saham di bursa Wall Street bergerak tipis dalam gerak perdagangan yang fluktuatif di akhir bulan Agustus. Bursa Wall Street menutup Agustus dengan penurunan terburuk sejak 2001.

Data-data positif yang mengejutkan sempat membuat indeks saham bertahan di teritori positif sepanjang perdagangan. Namun melorotnya saham-saham teknologi akhirnya menggerus kenaikan indeks saham.

Pada perdagangan Selasa (31/8/2010), indeks Dow Jones ditutup naik tipis 4,99 poin (0,05%) ke level 10.014,72. Indeks Standard & Poor's 500 naik tipis 0,41 poin (0,04%) ke level 1.049,33 dan Nasdaq melemah 5,94 poin (0,28%) ke level 2.114,03.

"Sepertinya pasar bergerak berputar untuk setiap data yang keluar. Setiap kepingan berita menyebabkan reaksi, dan 15 menit kemudian orang-orang mencari berita lainnya," ujar Eric Kuby, chief investment officer North Star Investment seperti dikutip dari Reuters, Rabu (1/9/2010).

Untuk bulan Agustus ini, indeks Dow Jones tercatat turun 4,31 %, Nasdaq turun 6,24% dan S&P 500 melemah 4,75%. Ini adalah merupakan catatan penurunan terburuk pada Agustus sejak 2001.

Perdagangan berjalan moderat dengan transaksi di New York Stock Exchange mencapai 8,16 miliar lembar saham, di bawah rata-rata tahun lalu yang sebesar 9,65 miliar.

(qom/qom)

Rabu, Mei 19, 2010

Wall Street Masih Tertekan Krisis Eropa

Rabu, 19/05/2010 07:08 WIB
Wall Street Masih Tertekan Krisis Eropa
Nurul Qomariyah - detikFinance

Foto: Reuters

New York
- Saham-saham di bursa Wall Street kembali bergerak melemah. Memanasnya lagi masalah aturan perbankan AS yang baru plus keputusan Jerman untuk membatasi short selling saham sektor finansial semakin membuat investor khawatir akan prospek pemulihan ekonomi.

Masalah aturan perbankan AS yang baru kembali mencuat setelah sejumlah anggota partai Republik akan bergabung dengan partai Demokrat untuk memuluskan aturan tersebut. Padahal aturan perbankan baru tersebut dikhawatirkan bisa menggerus profit dari institusi finansial.

Sentimen negatif lainnya datang dari Jerman yang memutuskan untuk melarang naked short selling untuk 10 saham institusi finansial penting negara tersebut. Naked short selling terjadi ketika investor menjual saham-saham tanpa meminjamnya terlebih dahulu.

Kondisi pasar finansial semakin diliputi ketidakpastian setelah euro melorot ke titik terendahnya dalam 4 tahun terakhir. Investor khawatir nasib pertumbuhan ekonomi Eropa akibat pemangkasan anggaran besar-besaran untuk menciutkan defitis.

"Ini adalah berlanjutnya ketidakpastian yang terus melemahkan pasar, baik berkaitan dengan masalah reformasi sektor finansial AS dan sekarang berhubungan dengan ketidakpastian di Eropa," ujar Quincy Krosby, analis dari Prudential Financial seperti dikutip dari Reuters, Rabu (19/5/2010).

Pada perdagangan Selasa (18/5/2010), indeks Dow Jones ditutup melemah 114,88 poin (1,08%) ke level 10.510,95. Indeks Standard & Poor's 500 juga melemah 16,14 poin (1,42%) ke level 1.120,80, dan Nasdaq melemah 36,97 poin (1,57%) ke level 2.317,26.

Saham-saham sektor finansial memimpin pelemahan indeks saham. Indeks finansial S&P melemah 2,8%, JP Morgan Chase & Co turun 2,1%.

Saham-saham teknologi juga mencatat penurunan terbesar. Intel Corp turun 2,7%, indeks saham semikonduktor SOXX turun 2,9%.

Perdagangan berjalan cukup ramai dengan transaksi di New York Stock Exchange mencapai 11,11 miliar, di atas rata-rata tahun lalu yang mencapai 9,65 miliar.

(qom/qom)


Jumat, Mei 07, 2010

Anjloknya Saham Diduga Salah Ketik Angka

Anjloknya Saham Diduga Salah Ketik Angka


Reaksi seorang pialang saat melihat papan indeks bursa saham Wall Street

VIVAnews - Para pelaku bursa saham terkemuka, Wall Street, di New York, Amerika Serikat (AS) heboh setelah indeks harga saham Dow Jones "terjun bebas" nyaris sebesar 1.000 poin. Muncul dugaan bahwa anjloknya indeks itu tidak saja karena kekhawatiran investor atas krisis utang di Yunani, melainkan akibat ada pialang yang salah ketik.

Untungnya indeks Dow bisa terangkat kembali. Di akhir transaksi pada Kamis sore waktu New York, indeks Dow hanya turun 347,80 poin (3,2%) menjadi 10.520. Itu pun termasuk penurunan yang cukup besar bagi kelompok harga saham blue chips tersebut.

Indeks Standard & Poor's 500 melemah 37,75 poin (3,2%) menjadi 1.128,15. Begitu pula dengan indeks komposit Nasdaq, turun 82,65 poin (3,4%) menjadi 2.319,64.

Namun pengelola dan para pelaku pasar saham Wall Street sempat terkaget-kaget melihat indeks Dow turun hampir 1.000 poin (mendekati sepersepuluh dari indesk total) hanya dalam kurun waktu kurang dari setengah jam. Itu merupakan penurunan terbesar yang dialami Dow selama transaksi.

Seperti beberapa hari terakhir, indeks-indeks di Wall Street dalam transaksi Kamis sudah diperkirakan terus menurun menyusul masih khawatirnya para investor atas potensi penularan krisis utang Yunani yang dapat berdampak buruk bagi ekonomi Eropa dan, pada akhirnya, mancanegara.

Namun, pada sesi perdagangan siang, terjadi penurunan yang tidak biasa pada indeks Dow. Kelompok saham pelaku industri terkemuka di AS itu sempat terlihat anjlok 998,50 poin sebelum akhirnya perlahan-perlahan kembali naik pada sesi sore. Terakhir kali indeks Dow terjun bebas adalah pada 15 Oktoober 2008. Di masa-masa puncak krisis keuangan saat itu, indeks Dow jomplang 780,87 poin.

Para pelaku pasar pun sempat pucat pasi melihat data itu. Mereka juga mengerubungi layar-layar televisi, mencari tahu ada peristiwa apa yang bisa membuat indeks Dow turun secara dahsyat. "Saya pun jatuh dari kursi. Sepertinya kita sudah di luar kendali," kata Jack Ablin, pialang dari Harris Private Bank di Chicago.

Muncul dugaan penurunan tajam ini bukan semata-mata akibat krisis Yunani, melainkan adanya kesalahan dalam transaksi jual saham lewat sistem komputer. Pengawas bursa sedang menyelidiki kabar bahwa ada seorang pialang yang salah mengetik tombol komputer. Trader itu bermaksud melepas saham sebesar US$16 juta, namun yang dia ketik adalah US$16 miliar.

Kesalahan itu cukup memicu aksi lepas saham besar-besaran. Kekhilafan tersebut tampaknya segera diperbaiki. Pengelola bursa saham New York (Wall Street) menyatakan tidak ada gangguan dengan sistem komputer utama, namun tidak menjelaskan apakah benar ada pialang yang melakukan kesalahan ketik.

Komisi Sekuritas dan Pasar Modal (SEC) menyatakan tengah menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi di balik anjloknya indeks Dow. Badan pengawas itu "tengah bekerjasama dengan bursa untuk melakukan langkah-langkah yang tepat untuk melindungi investor," kata SEC.

"Menurut saya mesin [komputer] sempat mengambil alih situasi. Tidak banyak interaksi manusia pada sistem itu," kata Charlie Smith dari Fort Pitt Capital Group. "Kita tahu bahwa perdagangan dengan sistem otomatis bisa seenaknya dan menurut saya itulah yang terjadi hari ini," lanjut Smith.

Banyak investor profesional dan trader di Wall Street menggunakan program-program komputer khusus untuk jual-beli saham partai besar. Program itu menggunakan model matematika yang didesain untuk menampilkan harga saham yang terbaik bagi seorang trader.

Namun, sering pula pergerakan angka dari program komputer itu sangat cepat, tergantung dari intensitas transaksi. (Associated Press) (umi)

http://id.news.yahoo.com/viva/20100507/twl-anjloknya-saham-diduga-salah-ketik-a-cfafc46.html

Kamis, Oktober 22, 2009

Minyak Tembus US$ 82, Wall Street Terhantam Saham Finansial

Kamis, 22/10/2009 08:16 WIB
Minyak Tembus US$ 82, Wall Street Terhantam Saham Finansial
Nurul Qomariyah - detikFinance



Jakarta
- Saham-saham sektor finansial terkena aksi jual hebat sehingga memaksa bursa Wall Street belok ke teritori negatif. Indeks Dow Jones kembali di bawah level 10.000.

Pelemahan saham-saham sektor finansial dipimpin oleh Wells Fargo yang sahamnya merosot hingga 5,1% setelah Richard Bove, analis dari Rochdale Research memangkas peringkat saham ini dengan mengatakan kerugian kreditnya memuncak.

"Ini hanya menunjukkan kepada Anda bagaimana rentannya kita terhadap berita buruk saat ini. Kita telah melihat menguatnya pasar saham dan kabar seperti ini cukup untuk menghempaskannya hingga 100 poin," ujar Stephen Massocca, managing director Wedbush Morgan seperti dikutip dari Reuters, Kamis (22/10/2009).

Pada perdagangan Rabu (21/10/2009), indeks Dow Jones industrial average (DJIA) ditutup melemah 92,12 poin (0,92%) ke level 9.949,36. Indeks Standard & Poor"s 500 juga melemah 9,66 poin (0,89%) ke level 1.081,40 dan Nasdaq melemah 12,74 poin (0,59%) ke level 2.150,73.

Sehari sebelumnya, Wells Fargo berada di jajaran bank yang mencatat laba kuartal III yang melebihi ekspektasi analis, bersama dengan Morgan Stanley dan US Bancorp. Namun reaksi pasar berbalik arah dalam setengah jam menjelang akhir perdagangan sehingga memaksa indeks saham berakhir di teritori neatif.

Selain Wells Fargo, saham-saham sektor finansial juga melemah seperti JPMorgan turun 3%, Bank of America turun 2,9%.

Perdagangan masih cukup moderat dengan transaksi di New York Stock Exchange sebanyak 1,41 miliar, sedikit di bawah rata-rata tahun lalu sebanyak 1,49 miliar. Di Nasdaq, transaksi mencapai 2,60 miliar, di atas rata-rata tahun lalu sebanyak 2,28 miliar.

Harga Minyak Melonjak ke US$ 82

Sementara harga minyak mentah dunia akhirnya menembus level US$ 82 per barel akibat turunnya cadangan bensin AS dan melemahnya dolar AS.

Kontrak utama minyak light sweet pengiriman Desember naik 2,25 dolar menjadi US$ 81,37 per barel setelah sempat menembus US$ 82 per barel. Minyak Brent pengiriman Desember naik 2,45 dolar menjadi US$ 79,69 per barel.

Departemen Energi AS melaporkan cadangan bensin mingguan AS turun 2,3 juta barel untuk pekan yang berakhir 16 Oktober. Angka ini turun 800.000 dari perkiraan analis.
(qom/qom)