Tampilkan postingan dengan label Krisis Eropa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Krisis Eropa. Tampilkan semua postingan

Minggu, Desember 04, 2011

SBY: Krisis Eropa Menyeramkan

Jumat, 02/12/2011 13:10 WIB
SBY: Krisis Eropa Menyeramkan  
Rachmadin Ismail - detikFinance 

Foto: Setpres
Jakarta - Dampak dari krisis finansial yang melanda kawasan Eropa, bisa lebih menyeramkan dibanding krisis yang menghantam ekonomi AS pada tiga tahun silam. Sebelum memasuki tahun anggaran 2012, Presiden SBY menargetkan jajarannya bisa merumuskan langkah antisipasi yang mujarab dan komprehensif.

"Barangkali minggu depan ada policy respons dan action apa yang harus kita lakukan. Jangan sampai gelombang tsunami menyerang ekonomi kita. Ini adalah early warning, kita harus lakukan segala sesuatunya dengan benar," kata Presiden SBY.

Hal ini sampaikannya dalam pembukaan sidang kabinet paripurna, Jumat (2/12/2011). Sidang yang juga dihadiri Wapres Boediono, Kepala UKP4 Kuntoro Mangkusubroto dan Ketua Wantimpres Emil Salim ini berlangsung di Kantor Presiden, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta.

Krisis di Eropa merupakan salah satu topik yang didiskusikan Presiden SBY dengan Presiden Jerman, Christian Wulff kemarin. Presiden Wulff menyampaikan dampak dari krisis yang bermula di Yunani kemudian Italia dan Spanyol itu mulai menerpa Jerman dan Perancis yang kapasitas ekonominya jauh lebih kuat.

"Perkembangan situasi ekonomi yang terjadi di Uni Eropa terutama Euro Zone, memang menyeramkan. Kalau dulu epicentrumnya di AS, one single country, sekarang terjadi di suatu kawasan yang penting," ujar SBY.

Karena krisis melanda kawasan yang merupakan pemain penting ekonomi dunia, cepat atau lambat baik langsung maupun tidak, dampaknya akan dirasakan Indonesia. Sudah seharusnya semua pihak bergerak cepat mewaspadai dan bekerjasama memperkecil dampak buruk yang bisa terjadi seperti yang dilaksanakan ketika mengantisipasi krisis finansial AS pada 2008.

"Isu ekonomi meski makin kompleks, kita tangani dengan tepat dan berpedoman pada pertumbuhan dan penciptaan lapangan kerja. Kita punya MP3EI, mari jalankan benar dan konkret, bila ada kemacetan mari langsung diatasi. Di samping disiplin fiskal ada banyak yang bisa kita lakukan," papar SBY.

(mad/dnl) 


http://finance.detik.com/read/2011/12/02/131047/1781069/4/sby-krisis-eropa-menyeramkan?f990101mainnews

Selasa, November 30, 2010

Krisis Eropa Masih Tekan Wall Street

Selasa, 30/11/2010 07:03 WIB
Krisis Eropa Masih Tekan Wall Street
Nurul Qomariyah - detikFinance



Foto: Reuters
New York- Bursa Wall Street ditutup melemah dalam volume perdagangan yang sangat tipis. Investor masih mengkhawatirkan nasib krisis di Eropa, meski sudah ada kesepakatan untuk membantu Irlandia dengan bailout 85 miliar euro.

Namun pelemahan saham-saham berkurang seiring menguatnya saham-saham energi dan finansial di sesi akhir. Tipisnya volume perdagangan membuat perdagangan berjalan sangat volatile.

Pada perdagangan Senin (29/11/2010), indeks Dow Jones Industrial Average ditutup melemah 39,51 poin (0,26%) ke level 11.052,49. Indeks Standard & Poor's 500 juga melemah 1,64 poin (0,14%) ke level 1.187,76 dan Nasdaq melemah 9,34 poin (0,37%) ke level 2.525,22.

Seiring krisis yang terjadi di Eropa, korelasi antara mata uang tunggal euro dan pergerakan saham dalam beberapa pekan terakhir sangat erat. Seiring krisis di Eropa, para pialang melepas euro dan saham-saham secara bersamaan.

"Katakan kepada saya kemana euro pergi dan saya akan mengatakan kepada Anda dimana pasar saham akan pergi," ujar Michael James, pialang senior Wedbush Morgan seperti dikutip dari Reuters, Selasa (30/11/2010).

Saham-saham energi menguat seiring lonjakan harga minyak mentah dunia hingga 2,3%. Saham Exxon Mobil tercatat menguat 0,3% menjadi US$ 69,45, setelah sebelumnya sempat melemah.

Sementara saham-saham perbankan juga mengalami perbaikan setelah sebelumnya merosot tajam. Indeks bank KBW naik 1% berkat kenaikan saham Bank of America hingga 1,5% menjadi US$ 11,31.

(qom/qom)

Rabu, Mei 19, 2010

Wall Street Masih Tertekan Krisis Eropa

Rabu, 19/05/2010 07:08 WIB
Wall Street Masih Tertekan Krisis Eropa
Nurul Qomariyah - detikFinance

Foto: Reuters

New York
- Saham-saham di bursa Wall Street kembali bergerak melemah. Memanasnya lagi masalah aturan perbankan AS yang baru plus keputusan Jerman untuk membatasi short selling saham sektor finansial semakin membuat investor khawatir akan prospek pemulihan ekonomi.

Masalah aturan perbankan AS yang baru kembali mencuat setelah sejumlah anggota partai Republik akan bergabung dengan partai Demokrat untuk memuluskan aturan tersebut. Padahal aturan perbankan baru tersebut dikhawatirkan bisa menggerus profit dari institusi finansial.

Sentimen negatif lainnya datang dari Jerman yang memutuskan untuk melarang naked short selling untuk 10 saham institusi finansial penting negara tersebut. Naked short selling terjadi ketika investor menjual saham-saham tanpa meminjamnya terlebih dahulu.

Kondisi pasar finansial semakin diliputi ketidakpastian setelah euro melorot ke titik terendahnya dalam 4 tahun terakhir. Investor khawatir nasib pertumbuhan ekonomi Eropa akibat pemangkasan anggaran besar-besaran untuk menciutkan defitis.

"Ini adalah berlanjutnya ketidakpastian yang terus melemahkan pasar, baik berkaitan dengan masalah reformasi sektor finansial AS dan sekarang berhubungan dengan ketidakpastian di Eropa," ujar Quincy Krosby, analis dari Prudential Financial seperti dikutip dari Reuters, Rabu (19/5/2010).

Pada perdagangan Selasa (18/5/2010), indeks Dow Jones ditutup melemah 114,88 poin (1,08%) ke level 10.510,95. Indeks Standard & Poor's 500 juga melemah 16,14 poin (1,42%) ke level 1.120,80, dan Nasdaq melemah 36,97 poin (1,57%) ke level 2.317,26.

Saham-saham sektor finansial memimpin pelemahan indeks saham. Indeks finansial S&P melemah 2,8%, JP Morgan Chase & Co turun 2,1%.

Saham-saham teknologi juga mencatat penurunan terbesar. Intel Corp turun 2,7%, indeks saham semikonduktor SOXX turun 2,9%.

Perdagangan berjalan cukup ramai dengan transaksi di New York Stock Exchange mencapai 11,11 miliar, di atas rata-rata tahun lalu yang mencapai 9,65 miliar.

(qom/qom)