Tampilkan postingan dengan label Cloud Computing. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cloud Computing. Tampilkan semua postingan

Kamis, Oktober 28, 2010

Cloud Computing di Indonesia Terhadang Minimnya Bandwidth

Selasa, 19/10/2010 08:12 WIB

Cloud Computing di Indonesia Terhadang Minimnya Bandwidth
Andrian Fauzi - detikinet



Suhono (ash/inet)

Jakarta - Cloud computing (komputasi awan) adalah satu keniscayaan dalam masa depan teknologi. Namun minimnya bandwidth internet di Indonesia bisa menjadi kendala.

Demikian dikatakan oleh Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Balitbang SDM) Kementrian Komunikasi dan Informasi, Cahyana Ahmadjayadi usai seminar 'Innovation Cloud Computing' di Campus Center ITB.

Menurutnya, terjadi pro dan kontra mengenai pelaksaan komputasi awan di Indonesia. "Pro karena ingin segera melaksanakan sesegera mungkin. Namun saat ini bandwidth internet masih terbatas," katanya kepada detikINET, Senin (18/10/10).

Cahyana, begitu pria ini akrab dipanggil menambahkan bahwa saat ini banyak operator yang memiliki data center. Dan jika melihat kondisi di Indonesia yang masih terbatas bandwidth internetnya maka diperlukan waktu 3-5 tahun untuk bisa mengoptimalkan penggunaan komputasi awan.

"Saya perkirakan perlu waktu 3-5 tahun. Patokan tersebut berdasarkan life cycle sebuah proyek. Namun tentunya harus ada inovasi dalam pengembangannya," ungkapnya.

Senada dengan Cahyana, Ketua Kelompok Keilmuan Teknologi Informasi Sekolah Teknik Elektro dan Informatika ITB, Suhono Harso Supangkat mengungkapkan diperlukan waktu yang cukup lama untuk bisa mensejajarkan komputasi awan di Indonesia dengan negara-negara lainnya.

"Ya sekitar 5-10 tahun. Namun harus ada kolaborasi yang bagus antara akademisi, industri dan pemerintah. Tidak bisa berjalan sendiri-sendiri," tegasnya.

Saat ini, lanjut Suhono, pihaknya tengah melakukan riset untuk pengembangan komputasi awan. Dari riset ini diharapkan dapat mengimplementasikan komputasi awan di Indonesia.

"Sudah 6 bulanan kita melakukan penelitian. Kita antipasi kebutuhan teknologi dan apa yang harus dikuasai dalam cloud computing ini," katanya.

Sebelumnya ITB menandatangani kerjasama dengan TRG. Dalam kerjasama tersebut, TRG memberikan fasilitas untuk penelitian dan pengembangan teknologi komputasi awan.

( afz / wsh )

Perkuat Cloud Computing, IBM Caplok Perusahaan Jaringan

Senin, 11/10/2010 13:15 WIB

Perkuat Cloud Computing, IBM Caplok Perusahaan Jaringan
Trisno Heriyanto - detikinet

Jakarta - IBM akhirnya memutuskan untuk menandatangani kesepakatan definitif untuk mengakuisisi BLADE Network Technologies (BLADE), sebuah perusahaan swasta yang berpusat di Santa Clara, Amerika Serikat.

Akuisisi BLADE didasari keinginan IBM unutk mengoptimal berbagai beban kerja baru yang semakin kompleks. Untuk itu mereka memperkenalkan serangkaian sistem baru yang diklaim memiliki kinerja lebih baik.

Dengan BLADE, IBM berencana merangsang inovasinya di setiap jejaring sistem. Tujuannya, agar pelanggan dapat mempercepat penghantaran informasi penting dari satu sistem ke sistem yang lain –untuk beban kerja seperti analitik dan komputasi awan– di samping mengurangi biaya pusat data.

BLADE menyediakan piranti lunak dan switch top-of-rack dan server blade untuk memvirtualisasikan dan mengelola komputasi awan dan beban kerja lainnya. Berdasarkan data penjualan IBM, Blade memiliki banyak pelanggan perusahaan yang bergerak dibidang otomotif, layanan telekomunikasi, pendidikan, pemerintah, perawatan kesehatan, pertahanan dan keuangan.

Dengan demikian, akusisi yang dilakukan oleh IBM diharapkan dapat memperkuat infrastruktur mereka untuk berbagai layanan yang disediakan.

“BLADE akan membantu IBM mengintegrasikan jaringan dengan sistem-sistemnya secara lebih baik, sehingga optimalkan untuk beban kerja yang membutuhkan performa berlatensi rendah dan kecepatan tinggi, seperti cloud computing dan analitik bisnis. ” jelas Fetra Syahbana, Country Manager, System & Technology Group, melalui keterangan tertulis yang diterima detikINET, Senin (11/20/2010).

( eno / wsh )

Cloud Computing, Pemerintah Serap Aspirasi Industri

Selasa, 19/10/2010 09:00 WIB

Cloud Computing, Pemerintah Serap Aspirasi Industri
Andrian Fauzi - detikinet

Cahyana (inet)

Jakarta - Indonesia saat ini tengah mencoba untuk mengadopsi teknologi cloud computing. Teknologi yang sudah diterapkan di beberapa negara ini perlu dukungan dari berbagai pihak. Mulai dari akademisi, industri dan pemerintah.

"Kita menunggu aspirasi dari industri. Insentif seperti apa yang diinginkan. Karenanya saya menyambut baik inisiasi dari ITB yang membahas tentang cloud computing ini," ungkap Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Balitbang SDM) Kementrian Komunikasi dan Informasi, Cahyana Ahmadjayadi saat berbincang dengan detikINET di ITB, Senin (18/10/10).

Disinggung apakah pemerintah akan siap mengabulkan insentif yang diinginkan oleh pelaku industri, Cahyana mengaku siap menampung aspirasi dari pelaku industri.

"Terserah pelaku industri. Saya datang ke sini (ITB - red) dalam rangka mempersiapkan diri. Toh ini (cloud computing - red) kan dalam rangka efisiensi nasional," katanya.

Cahyana juga mencontohkan pelaksanaan cloud computing di beberapa negara. Seperti Thailand, China, Vietnam, dan India. Menurutnya di negara-negara tersebut terjadi kolaborasi yang baik antara pemerintah dengan pelaku industri.

Di Thailand misalnya, strategi yang dilakukan adalah join kolaborasi dengan ISP lokal, data center operator dan beberapa perusahaan software yang dipilih pemerintahnya. Atau di China yang pemerintahnya menyediakan dana dan sumber daya manusia, serta membangun komunitasnya.

Di Vietnam, pemerintahnya mendorong investasi asing untuk membangun cloud computing serta mengembangkannya di universitas-universitas. Begitu pula dengan di India. Di negara Sungai Gangga ini pemerintahnya mendorong industri lokal softwarenya untuk mengembangkan teknologinya.

"Itu model pelaksanaa di beberapa negara. Tentunya Indonesia punya yang spesifik. Ada yang khas Indonesia dan itu yang akan kita dorong," ungkapnya.

Dijelaskan olehnya, beberapa strategi yang umum dilakukan oleh negara-negara lain dalam mengimplementasikan cloud computing adalah dengan joint collaboration antara ISP, data center, provider software dan pemerintah. Selain itu juga dengan melakukan reusing fasilitas dan infrastruktur yang sudah ada.

"Peningkatan kemampuan SDM juga menjadi strategi yang penting dilakukan," tukasnya.

( afz / wsh )

Cloud Computing Ancam Pekerja TI Konvensional

Kamis, 21/10/2010 16:06 WIB

Cloud Computing Ancam Pekerja TI Konvensional
Trisno Heriyanto - detikinet



ilustrasi (inet)

Jakarta - Komputasi awan, atau yang akrab disebut Cloud Computing bisa dibilang merupakan solusi baru dalam industri TI Tanah Air. Dengan layanan tersebut, pengguna dijanjikan bakal mendapatkan banyak sekali keuntungan, seperti rendahnya biaya operasional atau pun pemanfaatan waktu yang lebih baik.

Namun di balik itu, hadirnya cloud computing juga diprediksi bisa mengancam para tenaga kerja TI di Indonesia, yaitu mereka yang masih bekerja secara konvensional. "Cloud Computing bakal mengancam para tenaga kerja TI konvensional," ujar Susanto Djaja, President Director Metrodata, di Shangri La Hotel, Kamis (21/10).

Apa yang dikatakan katakan Susanto bukanlah tanpa alasan. Ia mengklaim, teknologi itu bisa mempersingkat waktu ketika pengguna ingin melakukan perubahan. Sehingga, kehadiran pekerja TI konvensional di lokasi tidak selalu dibutuhkan.

"Contoh kasus jika Anda ingin mengganti sofware dari versi 1 ke 2, yang ada di seribu client, di seluruh Indonesia. Kini tidaklah tenaga IT harus pergi ke masing-masing cabang, cukup dengan satu klik di Cloud Computing semuanya beres," tambah Susanto.

Meski belum banyak digunakan, layanan Clod Computing tampaknya mulai menjamur di Indonesia. Beberapa vendor besar pun sudah menyiapkan beberapa produknya, sebut saja Dell, Hewlett-Packard (HP), Cisco atau pun Microsoft.

Siapkah pekerja TI konvensional Indonesia untuk perubahan itu?


( wsh / wsh )