Sabtu, April 09, 2011

Fokus Operator Bergeser ke Layanan Data

Fokus Operator Bergeser ke Layanan Data
Layanan data-base menjadi sumber pertumbuhan baru. Sementara layanan suara justru turun.
SABTU, 9 APRIL 2011, 16:52 WIB
Indra Darmawan, Iwan Kurniawan

VIVAnews - Perkembangan pasar telekomunikasi seluler Indonesia saat ini telah menggeser strategi pemasaran dari sekadar "perang tarif telepon murah" menjadi “layanan data” atau tarif internet yang relatif murah.

Menurut Senior Consultant Information and Communication Technologies Frost & Sullivan Indonesia, Iwan Rachmat, kini operator seluler di Indonesia tak lagi hanya menjual jangkauan jaringan sebagai 'jualan' utamanya, melainkan lebih kepada penetapan tarif yang menarik.

"Jangkauan jaringan telah menjadi faktor umum dimana semua operator telah memiliki jaringan nasional," jelas Iwan lewat keterangan tertulis yang diterima VIVAnews.com Sabtu 9 April 2011.

Iwan menambahkan, tahun 2010 lalu telah menjadi tonggak baru bagi industri telekomunikasi Indonesia dimana harga layanandata-base seperti internet dan berbagai aplikasi diturunkan sehingga semakin terjangkau lewat berbagai program promosi yang ditawarkan.

"Seiring dengan fase perkembangan industri selular, layanan data-base telah berkembang menjadi sumber pertumbuhan baru dimana bisnis tradisional yang mengandalkan "suara" telah mengalami penurunan," jelasnya.

Tantangan yang dihadapi operator di masa mendatang, Iwan menjelaskan, adalah bagaimana mempromosikan layanan data-base secara komersial dan mengelola jaringan sehingga dapat memenuhi kebutuhan terhadap kapasitas akses yang tinggi dan mampu menjadi model bisnis yang menguntungkan.

Menurut dia,ksi operator-operator telekomunikasi pendatang yang menempuh strategi pemasarannya dengan mengurangi tarif, berujung pada penurunan pendapatan rata-rata per pelanggan (average revenues per user - ARPU).

Persaingan yang ketat itu telah memperluas pilihan bagi konsumen, memicu kecenderungan tingkat churn (atau berhenti berlangganan) yang besar. "Dengan demikian, retensi pelanggan telah menjadi tantangan paling berat yang dihadapi operator telekomunikasi saat ini."

Lebih jauh, Kepala Riset Frost & Sullivan, Jayashree Rajagopal mengatakan bahwa penentu keberhasilan perusahaan-perusahaan operator kini terletak pada bagaimana mereka dapat menarik pelanggan baru sembari mempertahankan pangsa pasar yang ada.

Dalam rangka meningkatkan skala operasi di negara-negara di mana mereka beroperasi, banyak pemain telekomunikasi besar telah mengkaji kemungkinan untuk bergabung dengan para pesaing yang lebih kecil.

"Akusisi strategis yang telah direncanakan dipastikan akan membantu mitra operator telekomunikasi untuk mengatasi berbagai tantangan pasar yang ada secara bersama-sama," ungkap Rajagopal.

Inovasi juga akan menjadi kunci utama dalam mengembangkan aplikasi dan layanan. "Kemitraan ini juga harus fokus pada penggabungan inovasi pada layanan yang dimiliki kedua belah pihak untuk meningkatkan pendapatan di pasar telekomunikasi."

Tahun lalu, dua operator CDMA PT Smart Telecom dan PT Mobile-8 Telecom merjer dan menyediakan layanan dengan satu nama bernama SmartFren. Sementara itu operator CDMA lain, Bakrie Telecom dan Telkom Flexi sempat menjajaki hal serupa, namun akhirnya rencana ini tidak terwujud.

• VIVAnews

http://teknologi.vivanews.com/news/read/213848-pemasaran-operator-bergeser-ke-tarif-data

Kembali Tembus Rekor, Emas Makin Kinclong

Sabtu, 09/04/2011 16:01 WIB
Kembali Tembus Rekor, Emas Makin Kinclong
Wahyu Daniel - detikFinance

Foto: Reuters
Jakarta - Harga emas kembali tembus rekor baru seiring dengan melemahnya nilai dolar AS, dan kekhawatiran investor akan laju inflasi.

Pada perdagangan Jumat (9/4/2011), harga emas di pasar spot sempat melaju menyentuh level tertinggi di US$ 1.474,6 per ounce, dan akhirnya ditutup di US$ 1.471,74 atau naik 1%. Dalam sepekan, harga emas telah naik 2,5%. Sementara di pasar berjangka, harga emas untuk pengiriman Juni naik 1% ke US$ 1.474,1 per ounce.

Trader memperkirakan harga emas bisa menyentuh level US$ 1.500 per ounce. Harga komoditas logam telah naik lebih dari 10% sejak Januari, dipicu oleh ketidakpastian di Timur Tengah dan Afrika Utara.

"Eksepktasi inflasi yang tinggi, investor mengalihkan mulia mengalihkan investasinya ke sektor komoditas," ujar Analis Hakan Kaya pengelola investasi senilai US$ 190 miliar, seperti dikutip dari Reuters, Sabtu (9/4/2011).

Selain emas, harga perak juga naik 2,4% ke level US$ 40,5 per ounce, setelah sempat menyentuh US$ 40,73 per ounce pada perdagangan Jumat.

Korelasi berkebalikan antara emas dan dolar AS terus menguat sepanjang pekan ini. Melemahnya dolar AS terhadap euro hingga ke titik terendahnya dalam setahun terakhir semakin memicu kenaikan harga emas.

Seperti diketahui, harga emas terus melonjak sejak awal tahun ini menyusul ancaman inflasi yang mendorong investor berbondong-bondong memburu logam berharga tersebut karena dinilai tempat investasi paling aman dari inflasi.


(dnl/dnl)


Wahyu Daniel - detikFinance


Foto: Reuters
Jakarta - Harga emas kembali tembus rekor baru seiring dengan melemahnya nilai dolar AS, dan kekhawatiran investor akan laju inflasi.

Pada perdagangan Jumat (9/4/2011), harga emas di pasar spot sempat melaju menyentuh level tertinggi di US$ 1.474,6 per ounce, dan akhirnya ditutup di US$ 1.471,74 atau naik 1%. Dalam sepekan, harga emas telah naik 2,5%. Sementara di pasar berjangka, harga emas untuk pengiriman Juni naik 1% ke US$ 1.474,1 per ounce.

Trader memperkirakan harga emas bisa menyentuh level US$ 1.500 per ounce. Harga komoditas logam telah naik lebih dari 10% sejak Januari, dipicu oleh ketidakpastian di Timur Tengah dan Afrika Utara.

"Eksepktasi inflasi yang tinggi, investor mengalihkan mulia mengalihkan investasinya ke sektor komoditas," ujar Analis Hakan Kaya pengelola investasi senilai US$ 190 miliar, seperti dikutip dari Reuters, Sabtu (9/4/2011).

Selain emas, harga perak juga naik 2,4% ke level US$ 40,5 per ounce, setelah sempat menyentuh US$ 40,73 per ounce pada perdagangan Jumat.

Korelasi berkebalikan antara emas dan dolar AS terus menguat sepanjang pekan ini. Melemahnya dolar AS terhadap euro hingga ke titik terendahnya dalam setahun terakhir semakin memicu kenaikan harga emas.

Seperti diketahui, harga emas terus melonjak sejak awal tahun ini menyusul ancaman inflasi yang mendorong investor berbondong-bondong memburu logam berharga tersebut karena dinilai tempat investasi paling aman dari inflasi.


(dnl/dnl)

Selasa, April 05, 2011

Tips Agar Tak Terjerat Kartu Kredit

Tips Agar Tak Terjerat Kartu Kredit
Kartu kredit bukan tambahan utang atau pendapatan.
SELASA, 5 APRIL 2011, 11:44 WIB
Arinto Tri Wibowo

VIVAnews - Asosiasi Kartu Kredit Indonesia menyatakan hingga akhir Februari 2011, pemegang kartu kredit di Indonesia telah mencapai 13,6 juta orang. Jumlah tersebut meningkat sekitar 13 persen dibanding data terakhir yang dipublikasikan di situs AKKI sebanyak 12 juta orang.

AKKI saat ini beranggotakan lebih dari 20 institusi penerbit kartu kredit dengan lebih dari 300 ribu merchant. Sebagai mitra dari beberapa prinsipal seperti American Express, JCB International, MasterCard International, dan Visa, serta bersama bank pengelola kartu kredit, AKKI berusaha meningkatkan kenyamanan bagi pengguna transaksi kartu kredit dalam melakukan transaksi.

Sementara itu, bekerja sama dengan unsur Criminal Justice System, seperti Kepolisian, Kejaksaan Agung, dan Mahkamah Agung, AKKI juga berusaha meningkatkan keamanan dalam melakukan transaksi kartu kredit bagi pemegang kartu dan merchant.

Meski demikian, menurut Ketua AKKI, Dodit W Probojakti, mengingatkan pengguna untuk selalu memahami manfaat pemakaian kartu kredit itu. Dia pun memberikan tiga tips sederhana terkait penggunaan kartu kredit.

Pertama, kartu kredit bukan tambahan utang atau pendapatan. Kartu kredit merupakan salah satu alat untuk memudahkan transaksi, sehingga pengguna tidak perlu banyak membawa uang tunai. "Tapi, ada tanggung jawab dari pengguna setelah menggunakan haknya dalam bertransaksi, yakni membayar tagihan," kata Dodit kepada VIVAnews.com.

Kedua, kartu kredit harus digunakan secara bijaksana dan disesuaikan dengan pendapatan. "Jangan melakukan transaksi kartu kredit yang melebihi pendapatan pengguna tiap bulannya," ujarnya.

Apalagi, dia menjelaskan, ada ketentuan bahwa pembayaran transaksi kartu kredit minimal 10 persen dari total tagihan. Meski demikian, pengguna kartu kredit di Indonesia rata-rata melakukan pembayaran sekitar 35-60 persen dari total tagihan kartu kreditnya.

Ketiga, upaya paling baik ketika nasabah menghadapi masalah terkait transaksi kartu kreditnya adalah membicarakannya dengan bank penerbit. "Ini cara paling benar, yaitu bernegosiasi dengan bank penerbit untuk mencari solusi," tuturnya.

Upaya ini, menurut Dodit, juga terkait dengan peristiwa meninggalnya nasabah Citibank beberapa waktu lalu. Seperti diketahui, nasabah Citibank, Irzen Octa, meninggal setelah mempertanyakan jumlah tagihan kartu kredit yang membengkak hingga Rp100 juta.

"Kami sangat menyayangkan dan berharap peristiwa ini hanya untuk yang pertama dan terakhir," tuturnya.

Menurut dia, upaya nasabah mendatangi bank penerbit untuk mengklarifikasi tagihan kartu kreditnya sudah benar. "Klarifikasi ini untuk mencari solusi. Tapi, bagaimana kejadian setelah itu, biar penyidik dari kepolisian yang melakukan tugasnya," katanya. (umi)

• VIVAnews

Siapa Paling Untung di Bisnis Telekomunikasi

Siapa Paling Untung di Bisnis Telekomunikasi
Dari segi laba bersih, XL Axiata mencatat pertumbuhan tertinggi.
SELASA, 5 APRIL 2011, 06:03 WIB
Antique, Purborini

VIVAnews - Lembaga riset dan konsultan independen global, Frost Sullivan mengungkapkan, di Indonesia, secara kualitatif, teknologi paling berpengaruh saat ini adalah revolusi di bidang telekomunikasi dengan perkembangan internet dan mobile phone.

Teknologi tersebut telah mengubah gaya hidup dan interaksi sosial konsumen di Indonesia, dengan merebaknya interaksi sosial di dunia maya tanpa batas ruang dan waktu.

Kondisi ini juga yang menentukan kinerja keuangan perusahaan penyedia layanan telekomunikasi seluler di Indonesia. Persaingan di industri ini dinilai ketat, karena adanya perang tarif antarpenyedia operator seluler yang saat ini berjumlah 11 operator.

Frost and Sullivan memperkirakan, setidaknya ada tiga operator seluler yang memiliki basis kuat di Indonesia, yakni PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) dengan Telkomsel, PT Indosat Tbk (ISAT), dan PT XL Axiata Tbk (EXCL).

Ketiga operator tersebut merupakan perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia. Lalu, bagaimana dengan kinerja keuangan mereka?

Dari segi laba bersih, XL Axiata mencatat pertumbuhan tertinggi ketimbang Indosat dan Telkom. XL Axiata mencatat laba bersih sebesar Rp2,89 triliun pada tahun buku 2010. Angka tersebut naik 69 persen dari perolehan laba bersih 2009 yang sebesar Rp1,7 triliun.

Hal itu dipicu kemampuan perseroan mempertahankan kenaikan beban usaha di kisaran sembilan persen. Total beban usaha perseroan sepanjang 2010 tercatat Rp12,29 triliun atau tumbuh 9,34 persen dibandingkan tahun buku tahun 2009 sebesar Rp11,24 triliun.

Tampaknya, pertumbuhan yang menjulang pada XL tidak berlaku bagi Indosat. Sebab, laba bersih Indosat tergerus sebesar 56,8 persen pada tahun buku 2010 dari periode sama 2009.

Indosat hanya mencatat laba bersih sebesar Rp647 miliar dibanding tahun sebelumnya yang mencapai Rp1,49 triliun. Penurunan laba bersih ini disebabkan turunnya pendapatan usaha non seluler sebesar Rp16,7 persen menjadi Rp3,77 triliun pada 2010 dari Rp4,52 triliun pada tahun sebelumnya.

Adapun Telkom, bisa dibilang mengalami pertumbuhan stagnan. Perusahaan pemilik operator seluler Telkomsel ini mencatat pertumbuhan laba sebesar Rp11,54 triliun pada 2010.

Perolehan laba itu naik tipis 1,2 persen dari tahun buku 2009 sebesar Rp11,39 triliun. Sedangkan dua tahun lalu, perusahaan pelat merah ini mencatat laba bersih sebesar Rp21,61 triliun.

Dari sisi aset, XL Axiata masih lebih rendah dibandingkan perusahaan telekomunikasi lainnya, Telkom. XL mencatat jumlah aset sebesar Rp27,25 triliun, meski turun dari tahun lalu sebesar Rp27,38 triliun.

Adapun Telkom memiliki nilai total aset sebesar Rp99,75 triliun pada 2010 atau naik 1,99 persen dari 2009 sebesar Rp97,81 triliun. Telkom juga mencatat laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) sebesar Rp36,76 triliun, turun tipis 0,99 persen dari posisi 2009.

Sementara itu, atas kinerja keuangan perusahaan-perusahaan operator tersebut, analis PT Majapahit Securities Wesley Andry, mengatakan industri telekomunikasi Indonesia saat ini sudah masuk masa kejenuhan. Kejenuhan, diperlihatkan dengan perang tarif yang menyebabkan keuntungan perusahaan telekomunikasi mengecil.

"Mungkin untuk jangka panjang, saham-saham telekomunikasi masih bisa dipegang. Tetapi untuk jangka menengah, saya tidak merekomendasikan," kata dia ketika dihubungiVIVAnews.com di Jakarta.

Wesley menambahkan, dari sisi pergerakan saham juga tidak menunjukkan stabilitas yang baik. "Kadang turun atau naik, seperti ada yang memainkan," ujar dia.

Selain itu, dia menuturkan, arus modal asing yang deras juga mendorong naik turunnya saham telekomunikasi. "Indonesia pasar emerging market, jadi bisa suatu saat dilepas turun atau naik, saya melihatnya secara teknikal," kata Wesley.

Bahkan, Wesley beranggapan, secara fundamental kinerja saham-saham di sektor telekomunikasi saat ini tidak memiliki faktor pendorong yang kuat. "Kecuali Telkom, yang kemarin berniat mengakuisisi 100 persen saham Telkomsel, makanya dia bisa naik," kata dia.

Dia menargetkan, saham berkode TLKM itu akan mencapai harga Rp7.500 pada tahun ini. (art)

• VIVAnews

Bareskrim Usut 8 Kasus Pembobolan Bank

Bareskrim Usut 8 Kasus Pembobolan Bank
Dari bikin rekening palsu hingga menguras deposito nasabah. Sudah 24 tersangka. Langkah BI
SENIN, 4 APRIL 2011, 23:49 WIB
Nur Farida Ahniar, Dedy Priatmojo

VIVAnews- Kasus pembobolan bank sudah mencemaskan. Aksi yang dilakukan Malinda Dee, yang menjebol dana nasabah Citibank, hanya satu dari sekian kasus pembobolan rekening nasabah yang terjadi dalam beberapa bulan belakangan. Hampir semua kasus itu melibatkan orang dalam bank. Orang-orang yang amat dipercaya nasabah mengamankan uang.

Itu sebabnya Bareskrim Mabes Polri dan Bank Indonesia menggelar rapat, Senin 4 April 2011. Bank Indonesia adalah otoritas yang mengawasi operasi perbankan di negeri ini, dan Bareskrim adalah lembaga yang bertugas mengusut setiap tindakan kriminal seperti pembobolan bank itu.

Dalam rapat yang digelar di Mabes Polri itu, kedua lembaga ini membahas delapan kasus pembobolan yang terjadi belakangan ini. Kasus-kasus itu terjadi antara akhir 2010 hingga Maret 2011. Sedang ditangani oleh Bareskrim. Sejumlah tersangka sudah ditetapkan.

Direktur II Tindak Pidana Ekonomi khusus Bareskrim Polri, Bigjen Pol Arief Sulistyo mengatakan bahwa polisi sudah menetapkan 24 tersangka dalam delapan kasus itu. Dari tersangka sebanyak itu, 13 diantaranya adalah pegawai bank, termasuk mantan Manajer Citibank Inong Melinda alias Malinda Dee.

Delapan perkara itu adalah

Pertama, pembobolan kantor kas BRI Tamini Square sebesar Rp29 miliar, melibatkan supervisor bank berinisial AM dan 4 tersangka lain. Modusnya membuka rekening atas nama tersangka lain, kemudian mentransfer uang ke dalam rekening yang kemudian ditukar dalam bentuk dolar.

Kedua, pemberian kredit dengan dokumen dan jaminan fiktif pada Bank BII pada 31 Januari 2011. Tersangka merupakan account officer BII di kantor cabang Pangeran Jayakarta. Total kerugian Rp3,6 miliar.

Ketiga, pencairan deposito dan nasabah tanpa sepengetahuan pemiliknya di Bank Mandiri. Modusnya memalsukan tanda tangan di slip penarikan, kemudian ditransfer ke rekening tersangka. Kasus yang dilaporkan 1 Februari 2011 dengan nilai kerugian Rp18 miliar. Polisi menetapkan lima tersangka, Salah satunya costumer service.

Keempat, terjadi di Bank BNI, dengan modus mengirimkan berita telex palsu. Isinya berupa perintah untuk memindahkan slip surat keputusan membuka rekening peminjaman modal kerja. Perkara ini melibatkan wakil pimpinan BNI di sebuah cabang Depok. Namun kasus ini berhasil dicegah karena sistem bank berhasil menghentikan transaksi itu.

Kelima, pencairan deposito milik nasabah oleh pengurus bank tanpa sepengetahuan pemiliknya di BPR Pundi Artha Sejahtera. Pada saat jatuh tempo deposito itu tidak bisa dibayarkan. Kasus ini melibatkan Direktur Utama BPR, dua komisaris, komisaris utama, dan marketing.

Keenam, terjadi pada Bank Danamon, dengan modus menarik uang kas berulang-ulang dari kantor cabang pembantu Menara Bank Danamon. Tersangka merupakan mantan teller Bank Danamon. Kasus yang dilaporkan 9 Maret 2011, dengan nilai kerugian Rp1,9 miliar dan US$110 ribu.

Ketujuh, terjadi Panin Bank dengan modus penggelapan dana nasabah yang dilakukan Kepala Operasi Panin Bank. Kejahatan ini dilakukan Kepala Operasional Panin Bank Cabang Metro Sunter, MAW, dengan kerugian Rp2,5 miliar.

Kedelapan, pembobolan yang dilakukan mantan relationship manager Citigold Citibank, MD. MD menarik dana nasabah tanpa sepengetahuan pemilik melalui slip penarikan kosong yang sudah ditandatangani nasabah. Nilai kerugian sebesar Rp4,5 miliar.

Proses internal lemah

Mengapa begitu banyak bank yang dijebol. Salah satu jawabannya adalah karena lemahnya proses internal perbankan. Itu sebabnya, Deputi Gubernur Bank Indonesia Halim Alamsyah, mendesak agar bank bertanggungjawab atas kasus pembobolan. Sebab, "Dalam beberapa kasus terjadi karena kelemahan proses internal perbankan" ujarnya.

Kelemahan internal bank itu antara lain. Pertama, pengawasan dan supervisi atasan tidak optimal. Supervisi yang tidak optimal itu diperparah kolusi antar oknum pegawai bank. Kedua, kebiasaan nasabah yang mudah percaya pada pegawai bank. Kepercayaan itu dimanfaatkan oleh oknum pegawai bank.

Karena lemahnya supervisi dan pengawasan, maka bank-bank itu harus diberi peringatan. Jika tidak memperbaiki diri patut diberi sanksi.

Kepala Biro Humas Bank Indonesia, Difi A Johansyah, menegaskan bahwa sanksi yang dikenakan kepada bank itu berjenjang. Dimulai dari peringatan tertulis. Peringatan itu sekaligus pembinaan untuk memperbaiki mekanisme kontrol internal. Jika hal itu tidak cukup, maka Bank Indonesia akan melakukan fit and proper test ulang terhadap manajemen, khususnya Direktur Kepatuhan.

Bank Indonesia juga akan mendesak sejumlah bank agar memperketat pengawasan internal. Sebab pengawasan yang ketat bisa meminimalisir oknum yang nakal. Manajemen bank memang sejatinya harus menerapkan kontrol yang ketat terhadap setiap transaksi.

Pengawasan super ketat itu, kata Direktur Utama Bank Rakyat Indonesia (BRI) Sofyan Basir, bisa mencegah ulah pegawai bank yang nakal. Hanya saja pengawasan super ketat itu memerlukan biaya yang mahal. Tapi, kata Sofyan, "Dengan biaya lebih ini diharapkan dapat mencegah terjadinya fraud" ujarnya.

Repotnya, lanjut Sofyan, jumlah cabang bank dan jumlah karyawannya banyakk sekali. BRI, misalnya, memiliki 7000 kantor dengan jumlah karyawan 75 ribu orang. "Tidak mungkin semuanya sempurna, termasuk SDM. Namun, kami melakukan pengawasan untuk meminimalkan penyelewengan."

Sejumlah cara yang dilakukan BRI adalah melakukan audit, sistem kendali, teknologi pengawasan pasif, atau inspeksi saat terjadi perubahan angka pada pos tertentu. Dengan cara ini karyawan selalu hati-hati.

• VIVAnews